Sampah di Saluran Rusunawa Tambora Menumpuk hingga Lantai Enam
- 07 Apr 2026 20:20 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Tumpukan sampah di saluran pembuangan vertikal atau trash chute di Rusunawa Tambora, Jakarta Barat menumpuk hingga lantai enam. Hal ini terjadi akibat terhambatnya proses pengangkutan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa 7 April 2026 siang, saluran trash chute tersebut terhubung dari lantai satu hingga lantai 16, dengan lebar lorong sekitar 30x60 sentimeter yang berfungsi untuk menjatuhkan sampah rumah tangga dari setiap lantai ke penampungan di lantai dasar.
Namun, kondisi penampungan di lantai dasar yang telah penuh dan belum terangkut membuat sampah dari lantai atas tidak dapat turun dengan lancar. Akibatnya, terjadi penyumbatan di dalam saluran hingga sampah menumpuk di beberapa lantai, terutama di Tower B dan C.
Di Tower B, sampah dilaporkan telah mampet selama hampir satu bulan hingga menumpuk sampai lantai tiga. Sementara di Tower C, kondisi lebih parah dengan tumpukan sampah mencapai lantai enam.
Dampak dari kondisi tersebut membuat warga di lantai bawah tidak dapat lagi membuang sampah melalui saluran trash chute dan terpaksa membawa sampah secara manual ke lantai dasar.
Pengelola Rusunawa Tambora UPRS I, Gatot Nurferianto, menjelaskan bahwa sistem pembuangan menggunakan shaft membuat sampah akan terus menumpuk ke atas apabila tidak segera diangkut dari bagian bawah
“Kalau di bawahnya penuh dan tidak terangkut, sampah dari atas jadi tidak bisa turun. Akhirnya mampet dan naik ke atas,” ujar Gatot saat ditemui di lokasi, Selasa.
Ia menambahkan, Rusunawa Tambora merupakan satu-satunya rusun di Jakarta yang masih menggunakan sistem pembuangan sampah melalui saluran shaft, berbeda dengan rusun lain yang mewajibkan warga membuang sampah langsung ke tempat penampungan di lantai dasar.
Tercatat terdapat tiga titik saluran shaft di rusun tersebut. Namun, akibat penumpukan yang semakin parah, dua di antaranya terpaksa ditutup sementara, sehingga kini hanya tersisa beberapa titik pembuangan yang beroperasi.
Sebelumnya, Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Barat telah menerapkan strategi pengangkutan bertahap menyusul pembatasan kuota pembuangan sampah ke TPST Bantar Gebang hingga 38 persen.
Kepala Sudin LH Jakarta Barat, Achmad Hariadi, menjelaskan bahwa strategi tersebut dilakukan dengan memadatkan sampah dari beberapa truk kecil ke dalam truk berkapasitas besar sebelum dikirim ke TPST.
“Truk kecil tidak langsung kita kirim, tapi sampahnya dipadatkan ke truk besar agar lebih efisien,” kata Hariadi.
Ia menambahkan, pengiriman sampah kini dilakukan dalam dua ritase, dengan prioritas utama pada pengangkutan sampah di jalan-jalan protokol guna mencegah penumpukan di ruang publik.
Meski demikian, keterbatasan armada dan kuota pengangkutan masih menjadi tantangan dalam penanganan sampah di sejumlah titik, termasuk di kawasan Rusunawa Tambora.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....