Berbulan-bulan Warga Kalibaru Keluhkan Bau Menyengat Sampah

  • 07 Apr 2026 19:53 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Masalah sampah di kawasan pemukiman warga RT 10 RW 04 Kalibaru Barat, Cilincing, Jakarta Utara kian memprihatinkan. Tumpukan sampah yang telah menggunung selama lebih dari satu bulan ini tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas ekonomi warga sekitar.

Septiana, salah satu warga sekaligus pedagang yang berjualan tepat di dekat lokasi tumpukan sampah, mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah terjadi sejak sebelum bulan puasa. Ia merasa kondisi saat ini adalah yang terparah dibandingkan sebelumnya.

"Sudah sebulan lebih, dari sebelum puasa. Ini lebih parah dari sebelumnya," ujar Septiana saat diwawancarai. Selasa 7 April 2026.

Menurut Septiana, meskipun sempat ada pengangkutan lima hari yang lalu, intensitasnya sangat minim. Truk pengangkut sampah biasanya hanya datang sekali dalam dua minggu, dan hanya satu unit mobil yang dikerahkan. Hal ini tidak sebanding dengan volume sampah yang terus bertambah setiap harinya.

Dampak dari penumpukan sampah ini sangat dirasakan oleh Septiana sebagai pedagang. Bau busuk yang menyengat serta banyaknya lalat membuat para pembeli enggan mampir ke dagangannya.

Selain itu, ia juga khawatir saat hujan turun, karena aliran air seringkali membawa sampah-sampah tersebut masuk ke area tempatnya berjualan.

"Ngerasa keganggu, ngerasa kebauan. Kalau ada pembeli kan nggak enak, apalagi sampahnya berserakan begini. Kalau banjir juga sampahnya suka lari ke dagangan saya," keluhnya.

Ia juga menambahkan bahwa lokasi tersebut sebenarnya bukan tempat pembuangan sampah besar. Namun, warga dari berbagai wilayah lain juga turut membuang sampah di sana, sehingga tumpukan semakin sulit terkendali.

"Yang buang sampah bukan orang sini saja, dari mana-mana juga buang ke sini. Harusnya mah cuma tempat sampah kecil, tapi sekarang jadi kotor begini," tambahnya.

Warga berharap pemerintah setempat dan dinas kebersihan terkait dapat lebih rutin melakukan pengangkutan, setidaknya dua hingga tiga hari sekali.

Mereka menginginkan lingkungan yang bersih dan tertata agar aktivitas warga, terutama para pedagang, dapat kembali berjalan normal tanpa gangguan bau dan ancaman penyakit.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....