Tetap Produktif saat Puasa, Ramadan Ajarkan Kerja yang Tuntas
- 13 Mar 2026 16:44 WIB
- Jakarta
Ibadah puasa di bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana memperbaiki diri, meningkatkan kualitas iman, serta tetap menjalankan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Hal ini disampaikan oleh Ustaz Muhammad Labib dalam program Syiar Ramadan di Radio 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026, dengan tema “Puasa Totalitas Ramadan Berkualitas dan Bekerja Tuntas.”
Menurut Labib, puasa yang dijalankan hanya sebatas menahan makan dan minum tanpa memperbaiki sikap dan perkataan berpotensi tidak memberikan nilai ibadah yang maksimal. Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Allah tidak membutuhkan seseorang meninggalkan makan dan minumnya jika masih melakukan perkataan dusta dan perbuatan buruk.
“Banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus. Karena itu, puasa harus melibatkan hati, lisan, pikiran, dan perbuatan,” ujar Labib.
Ia menjelaskan, puasa yang dijalankan secara total berarti menahan diri tidak hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari perilaku yang dapat merusak nilai ibadah, seperti berkata kasar, menyakiti orang lain, hingga melakukan ghibah. Jika semua aspek tersebut dijaga, menurutnya, puasa akan bernilai di sisi Allah SWT.
Labib juga menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai bulan peningkatan kualitas iman. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa.
“Setelah Ramadan seharusnya kita menjadi lebih rajin salat, lebih dekat dengan Al-Qur’an, akhlaknya lebih lembut, dan lebih peduli terhadap sesama,” katanya.
Ia menambahkan, kualitas Ramadan tidak diukur dari banyaknya hidangan saat berbuka, melainkan dari perubahan perilaku yang terjadi dalam diri seseorang selama menjalankan ibadah tersebut.
Selain meningkatkan kualitas ibadah, Labib juga mengingatkan bahwa Ramadan bukan alasan untuk bermalas-malasan dalam bekerja. Islam justru mengajarkan agar setiap pekerjaan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan diselesaikan dengan baik.
Ia mencontohkan peristiwa Perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadan, ketika kaum Muslim tetap berjuang meskipun sedang berpuasa. Hal itu menunjukkan bahwa puasa tidak menghalangi seseorang untuk tetap produktif.
“Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan pekerjaan, ia melakukannya dengan sungguh-sungguh dan tuntas. Karena itu, ibadah harus maksimal, tetapi pekerjaan juga tetap berjalan,” jelasnya.
Labib juga mengingatkan bahwa seseorang tetap memiliki kewajiban menafkahi keluarga dan memenuhi tanggung jawabnya, sehingga puasa tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan pekerjaan.
Di sisi lain, Ramadan juga mengajarkan rasa empati terhadap sesama. Dengan merasakan lapar dan haus, seseorang diharapkan lebih peka terhadap kondisi orang lain yang kekurangan dan terdorong untuk berbagi.
Ia menilai, sikap membantu orang lain sebaiknya dilakukan tanpa disertai prasangka buruk. Ketika seseorang memiliki kesempatan untuk bersedekah, tugasnya adalah memberi dengan ikhlas tanpa perlu memikirkan apa yang akan dilakukan penerima dengan bantuan tersebut.
“Jika ada rezeki untuk berbagi, tunaikan saja. Urusan setelahnya bukan lagi ranah kita,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....