Puasa, Uji Kesabaran Orang Tua

  • 27 Feb 2026 15:08 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta: Menjelang waktu berbuka, suasana rumah tak selalu hangat dan tenang. Rasa lapar dan lelah kerap membuat emosi orang tua lebih mudah tersulut saat mengahadapi tingkah anak.

Psikolog Klinis Remaja dan Dewasa, Nena Mawar Sari, mengingatkan bahwa kondisi tersebut sangat manusiawi. Namun, Ia menekankan pentingnya kesadaran diri agar emosi tidak berubah menajdi penyesalan.

Dikutip dari laman resmi Antara, pada Jumat 27 Februari 2026, menurutnya ada empat kondisi yang sering memicu ledakan emosi. Mulai dari lapar, marah, sendiri, dan lelah. Istilah ini dikenal dengan konsep hungry, angry, lonely, tired (HALT).

Selama puasa, kadar gula darah yang menurun membuat tubuh terasa lemas. Di saat bersamaan, tanggung jawab rumah tangga, seperti memasak dan mengurus anak tetap berjalan.

“Biasanya dalam kondisi lapar, marah, kesepian, kemudian kita merasa capek, emosi kita jadi mudah terpancing. Nah caranya adalah dengan berjeda dan tetap menyadari emosi kita itu bentuknya yang mana,” ujar Nena, dikutip dari Antara, Jumat 27 Februari 2026.

Jeda, menurutnya bukan berarti menghidar dari anak. Jeda adalah ruangg singkat untuk menenangkan diri sebelum memberikam respons. Ia mencontohkan, orang tua bisa jujur menyampaikan kondisinya kepada anak.

“Jadi gak apa-apa untuk mengatakan mama sedang capek, bisa nggak kita ngobrolnya nanti, atau misalnya lihat gambarnya ya pada saat sudah istirahat, dan lain sebagainya. Sehingga, kita bisa menghindari tindakan implusif,” katanya.

Langkah sederhana itu dinilai mampu mencegah ucapan atau tindakan yang melukai perasaan anak. Dengan kesadaran emosi, orang tua dapat tetap hadir secara hangat meski energi terbatas.

Selain itu, dukungan pasangan menjadi kunci penting dalam pengasuhan. Beban merawat anak, menurut Nena, sebaiknya tidak hanya dipikul oleh satu pihak.

Dialog terbuka antar pasangan diperlukan untuk membagi peran secara adil. Dengan kerja sama yang setara, suasana rumah selama Ramadan dapat terasa lebih tenang dan penuh pengertian, sehingga dapat menghadirkan jalan tengah yang tepat.

“Jadi setiap anggota keluarga hendaknya punya peran yang sama dan setara sesuai dengan kapasitasnya masing-masing,” ucap Nena.

(FitriYanti Puspita Dewi - Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....