Pangan Jelang Ramadan -'barangnya ada tapi harganya naik'

  • 04 Feb 2026 20:02 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Uang belanja Rp700.000 yang dulu masih menyisakan kembalian kini habis tanpa sisa di tangan pelaku usaha warteg. Kenaikan harga pangan menjelang Ramadan menggerus napas usaha kecil sekaligus menghantam dapur rumah tangga miskin.

Pelaku usaha warteg mulai merasakan tekanan harga pangan meski pemerintah menyebut stok aman jelang Imlek dan Ramadhan. Mukroni, Chief Executive Officer Koperasi Warteg Nusantara atau Kowantara, mengatakan kenaikan harga membuat uang belanja cepat habis. “Barangnya ada, tapi harganya naik, itu bikin kepala pusing,” ujar Mukroni dalam wawancara di radio 91,2FM Pro1 RRI Jakarta, Rabu 4 Februari 2026.


Foto ilustrasi seorang konsumen datang memesan hidangan di Warung Tegal (warteg) milik Tarsih Irdayanti (Foto: Facebook Kowantara)


Mukroni menggambarkan perubahan paling terasa terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Ia menyebut harga minyak goreng curah sudah menyentuh Rp19.000 per kilogram sebelum puasa. “Belum puasa saja sudah segitu, pas puasa bisa naik lagi,” ucapnya.

Ia menilai kenaikan harga tidak selalu terasa besar dalam satu waktu, tetapi akumulatif dalam setahun. Mukroni mencontohkan beras yang naik bertahap hingga puluhan persen. “Naiknya sedikit-sedikit, tapi kalau dihitung setahun bisa 30 sampai 40 persen,” ujarnya.


Mukroni (kiri), Chief Executive Officer Koperasi Warung Tegal Nusantara, menyampaikan kondisi kenaikan harga bahan pangan saat wawancara daring di radio Pro1 RRI Jakarta pada Rabu, 4 Februari 2026). Ia menilai stok tersedia namun lonjakan harga menekan pedagang warung makan tegal. (Foto: tangkapan layar wawancara zoom meeting)

Data harga pangan Jakarta menunjukkan pergerakan beragam antar komoditas. Beras premium tercatat Rp16.916 per kilogram dan naik Rp219, sementara cabai rawit merah mencapai Rp77.024 per kilogram. Harga daging sapi murni berada di kisaran Rp140.667 per kilogram dan ayam broiler sekitar Rp43.757 per ekor.

Mukroni menyebut telur, ayam, minyak, dan cabai menjadi komoditas yang paling menekan biaya warteg. Ia juga menyoroti peningkatan permintaan dari program dapur skala besar yang menyerap pasokan. “Sekarang suplai ke pasar umum berkurang karena ada permintaan khusus, itu bikin harga terdorong,” ucapnya.

Dampak langsung terlihat pada pola belanja warteg. Uang Rp700.000 yang dulu cukup untuk banyak bahan kini hanya habis untuk komoditas utama. “Sekarang uang segitu terkonsentrasi ke beras saja, belanja jadi ngepas,” ujar Mukroni.

Untuk bertahan, pelaku warteg mengatur ulang porsi makanan tanpa menaikkan harga jual. Mukroni mengatakan pedagang mengurangi takaran lauk secara halus. “Yang biasa tiga sendok jadi dua sendok, telur pilih yang kecil, cabai juga dikurangi,” ucapnya.

Ia mengaku margin keuntungan warteg menyusut dibanding sebelumnya. Margin yang dulu bisa 10–15 persen kini makin tipis karena biaya bahan naik, sementara harga jual sulit disesuaikan. “Kalau harga dinaikkan, pelanggan pindah karena persaingan ketat,” ucap Mukroni.

Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan stok pangan Jakarta aman hingga Idul Fitri. Ia menyebut pemerintah rutin berkomunikasi dengan daerah penyuplai pangan. Pernyataan itu menegaskan ketersediaan barang tidak menjadi persoalan utama.

Namun ekonom Universitas Sebelas Maret, Bhimo Rizky Samudro, melihat persoalan harga lebih kompleks. Ia menilai situasi tahun ini berbeda dengan pola musiman sebelumnya. “Ada pergeseran waktu panen dan ketidakpastian iklim, itu memicu guncangan biaya,” ujar Bhimo.


Ekonom Bhima Yudhistira menyampaikan pandangannya terkait dinamika harga pangan dan daya beli masyarakat. Ia menilai kenaikan harga bahan pokok berpotensi menekan konsumsi rumah tangga. (Foto: uns.ac.id)

Bhimo menjelaskan setiap komoditas memiliki kerentanan berbeda terhadap cuaca. Sayur mayur, beras, dan protein hewani merespons kondisi iklim secara tidak seragam. “Stok disebut aman, tapi karakter tiap pangan beda, jadi tekanan harga tetap muncul,” ucapnya.

Ia menilai dampak paling berat dirasakan rumah tangga miskin yang pengeluarannya didominasi pangan. Menjelang Ramadhan, kebutuhan konsumsi meningkat karena faktor budaya dan kebiasaan. “Kalau tidak diatur, pengeluaran rumah tangga pasti melonjak,” kata Bhimo.

Bhimo mendorong pemerintah memetakan komoditas rentan dan melakukan intervensi terarah. Ia menyarankan kebijakan jangka pendek fokus pada stabilisasi pasokan dan distribusi. “Regulator perlu perlakuan khusus untuk pangan yang paling terdampak cuaca,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....