Jelang Piala Dunia, Didier Deschamps: Tidak Ada yang Mengalahkan Jadi Juara Dunia
- 04 Jun 2026 10:54 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Menjelang Piala Dunia FIFA 2026, pelatih legendaris Perancis Didier Deschamps memilih fokus pada tantangan sekarang daripada nostalgia masa lalu. Bagi pria yang disapa "DD" ini, edisi ke-23 turnamen tersebut akan menjadi panggung terakhirnya sebagai pelatih Les Bleus setelah kontraknya tidak diperpanjang, dikonfirmasi kepada TF1 pada Januari 2025. Menjelang Piala Dunia keempatnya, Deschamps menegaskan tidak tertarik berpuas diri dengan pencapaian masa lalu.
"Saya hanya memikirkan hari ini dan besok; begitulah saya. Sejujurnya, tidak ada hal lain yang penting. Saya fokus pada apa yang ada di depan," ungkapnya, dalam wawancara dengan FIFA.
Deschamps mengakui bahwa status juara dunia memiliki tempat paling sakral dibanding trofi lain termasuk Liga Champions UEFA.
“Tidak ada yang mengalahkan menjadi juara dunia. Nama Anda tetap sama, tetapi dua kata ditambahkan yang jadi pembeda selamanya: juara dunia," katanya.
Final Piala Dunia 2026 yang akan digelar pada 19 Juli 2026, bisa menempatkan Deschamps di kategori tersendiri dalam sejarah. Saat ini Ia bersanding dengan mendiang Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer sebagai sosok yang menjuarai Piala Dunia sebagai pemain maupun pelatih. Jika Perancis menang, Deschamps akan menjadi orang pertama yang mencapai tiga final Piala Dunia berturut-turut sebagai pelatih.
Perancis berada di Grup I bersama Senegal, Irak, dan Norwegia, dengan laga pembuka melawan Senegal yang membuka memori kelam Piala Dunia 2002 saat Perancis sebagai juara bertahan tumbang 1-0. Namun Deschamps menepis narasi balas dendam.
“Saat itu, para pemain saya bahkan belum lahir atau cukup umur untuk mengerti. Tidak ada hal seperti itu dalam olahraga. Sekarang itu sudah menjadi sejarah dan ini adalah babak baru. Senegal adalah negara dengan sepak bola terbaik di Afrika saat ini,"katanya.
Deschamps diberkati dengan Ousmane Dembélé (pemenang The Best FIFA Pria Terbaik 2025), Michael Olise yang impresif di Bayern Munich setelah juara Bundesliga dan DFL-Supercup, serta bintang Kylian Mbappé yang menjadi top scorer Liga Champions 2025/26 dengan 15 gol. Belum lagi talenta muda Desire Doué, Rayan Cherki, dan Marcus Thuram.
Pelatih yang pernah bermain untuk Chelsea dan Marseille itu sadar skuad 2026 didominasi pemain muda minim pengalaman turnamen besar dibanding skuad 2018.
“Kami mengangkat trofi pada tahun 2018 dan mencapai final pada tahun 2022, jadi para pendukung tentu berharap melihat Perancis masih bersaing pada pertengahan Juli. Kami adalah salah satu dari 10 atau 12 negara yang secara realistis bisa menjadi juara. Tapi pada akhirnya, hanya akan ada satu pemenang. Itu berarti ada 11 negara lain yang akan kecewa," tuturnya realistis.
Hingga kini Deschamps belum memikirkan kehidupan setelah Piala Dunia 2026. Baginya, mendedikasikan 25 tahun untuk Perancis, 11 tahun sebagai pemain dan 14 tahun sebagai pelatih adalah berkah terbesar kariernya.
"Ketika mereka memakai seragam itu, para pemain mempunyai tanggung jawab untuk memberi, bukan menerima. Tim nasional Perancis telah membentuk kehidupan profesional saya lebih dari apa pun. Ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Saya ragu akan menemukan sesuatu yang lebih baik nantinya. Tapi, Anda tidak akan pernah tahu,” tutup sang pelatih legendaris.
(Argia Putri Ferdiansyah - Institut Bisnis & Informatika Kosgoro 1957)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....