RRI: AI Bukan Musuh, tapi Mitra untuk Dorong Kreativitas Anak Bangsa
- 13 Agt 2026 13:50 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- RRI: AI Bukan Musuh, tapi Mitra untuk Dorong Kreativitas Anak Bangsa
RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Utama LPP RRI, I. Hendrasmo menilai perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi para kreator. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai mitra untuk meningkatkan produktivitas dan menghasilkan karya kreatif.
Hal itu disampaikan Hendrasmo dalam Kick-off Program Kolaborasi “Transformasi Kreator Indonesia” antara LPP RRI dan PT Hyppe Teknologi Indonesia di Auditorium M. Jusuf Ronodipuro, RRI Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026.
“Soal AI kita tidak menganggap musuh, kita menganggap sebagai mitra. Kita bisa memanfaatkannya untuk produktifitas membuat karya drama berdasarkan ide kearifan lokal bisa kita lakukan, dan Hyppe ini menerima karya kita yang menggunakan AI juga sehingga bisa mengoptimalkan,” ujar Hendrasmo.
Menurutnya, pemanfaatan AI dapat membuka berbagai peluang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan ide menjadi karya kreatif. Teknologi tersebut dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mempercepat proses produksi sekaligus mengoptimalkan potensi kreator.
Hendrasmo mencontohkan pemanfaatan AI untuk menghasilkan karya drama yang bersumber dari ide dan kearifan lokal. Menurutnya, perkembangan teknologi justru dapat dimanfaatkan untuk memperluas ruang kreativitas tanpa harus meninggalkan identitas dan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia.
Ia menegaskan, pemanfaatan teknologi harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem digital yang produktif. Karena itu, kolaborasi antara RRI dan Hyppe menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan potensi kreator dengan perkembangan teknologi digital.
“Bagian terpentingnya adalah bagaimana kita ini memperkuat ekosistem digital bangsa kita melalui kolaborasi ini,” kata Hendrasmo.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo juga menyoroti pentingnya konektivitas teknologi dalam membuka akses kreativitas masyarakat di berbagai wilayah.
“Konektivitas dengan teknologi termasuk AI ini kan membuat akses stabilitas lebih mudah untuk di daerah-daerah di pelosok-pelosok selama punya gadget, selama punya konektivitas, mereka bisa mengakses hal-hal yang mungkin dulu hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang ada di kota tapi sekarang di daerah-daerah,” ujarnya.
Namun, pemanfaatan teknologi dan ruang digital menurut Saraswati juga perlu dibarengi dengan kesadaran serta tanggung jawab. Ia menilai kebebasan berekspresi harus tetap berjalan bersama dengan kemampuan masyarakat untuk memilah informasi dan menghasilkan konten yang positif.
“Kalau kita bicara RRI TVRI semua sarana publikasi milik negara tentunya penting untuk bisa menyeimbangi kegaduhan yang terjadi di media sosial yang terkadang enggak ada filternya. Jadi kita ini perlu mendorong kebebasan berekspresi, menjaga itu tetapi tentunya harus dengan kesadaran bukan untuk menyebarkan informasi yang salah, harus meningkatkan daya pikir yang sangat kritis,” kata Saraswati.
Saraswati juga mengingatkan para kreator dan influencer untuk memahami besarnya pengaruh yang mereka miliki di tengah masyarakat. Menurutnya, setiap konten yang disampaikan memiliki dampak sehingga harus digunakan secara bijak.
“Dan harapannya para kreator itu bisa bijak menggunakan apalagi kalau mereka sudah disebut influencer gitu, mau itu mikro mau itu makro apapun itu jari-jari mereka itu punya kuasa, suara mereka punya kuasa, apa yang mereka sampaikan ke masyarakat, itu punya kuasa, jangan sampai digunakan untuk hal-hal yang justru bukan yang membawa kita ke era yang lebih baik, tapi malah membawa kita ke era yang lebih gelap,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keamanan ruang digital, termasuk perlindungan terhadap perempuan dan anak dari berbagai bentuk kekerasan maupun eksploitasi.
“Bicara tentang perdagangan orang di era digital ini, kenapa kita harus mendukung juga PP Tunas dari Komdigi dan saya juga sangat suka dengan platform yang kita bicarakan hari ini, Hyppe itu sudah pasti akan di take down apapun yang bernuansa child trafficking, child abuse. Tentunya kita harus menjadi garda terdepan di sini, think before you click, think before you share,” tutur Saraswati.
Melalui kolaborasi antara RRI dan Hyppe, pemanfaatan teknologi digital diharapkan tidak hanya mendorong produktivitas kreator, tetapi juga membangun ruang digital yang aman, kreatif, dan mampu memberikan kontribusi terhadap perkembangan ekonomi kreatif Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....