Angkutan Retail KAI Naik 19,59 Persen dalam Dua Tahun, Capai Ratusan Ribu Ton

  • 09 Agt 2026 19:54 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat volume angkutan retail mencapai 146.617 ton sepanjang Januari hingga Juli 2026, meningkat 19,59 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Pada periode 2024, volumenya tercatat 122.598 ton, sehingga terdapat tambahan sekitar 24 ribu ton dalam dua tahun.

Berdasarkan siaran pers yang dikutip melalui Antara, Minggu 9 Agustus 2026, KAI juga mencatat pertumbuhan secara tahunan, meski lebih moderat, dengan volume Januari hingga Juli 2026 naik 3,59 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 141.541 ton.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan angkutan retail berkaitan dengan aktivitas pelaku usaha, UMKM, perdagangan antarkota, hingga kebutuhan rumah tangga. Menurutnya, kepastian pengiriman barang menjadi salah satu faktor yang mendukung keberlangsungan kegiatan usaha.

"Ada produk yang harus sampai kepada pembeli, bahan usaha yang harus tersedia, dan perputaran ekonomi yang bergantung pada distribusi. Karena itu, bagi KAI, angkutan retail merupakan bagian penting dari ekosistem logistik yang melayani kebutuhan ekonomi masyarakat," kata Anne, dalam siaran pers tersebut.

Dalam skema layanan KAI, angkutan retail berbasis kereta api umumnya digunakan untuk perjalanan utama antarkota atau middle-mile. Barang dikonsolidasikan oleh perusahaan logistik untuk diangkut melalui kereta api pada lintas utama, kemudian diteruskan melalui jaringan distribusi hingga ke penerima.

KAI menyebut layanan angkutan retail pada segmen tersebut menggunakan model bisnis Business to Business (B2B) bersama mitra logistik. Dengan pola itu, masyarakat dapat memanfaatkan jaringan kereta api melalui perusahaan ekspedisi dan penyedia layanan logistik yang menjadi mitra KAI.

Anne mengatakan efisiensi logistik membutuhkan kolaborasi antara berbagai moda transportasi, pelaku usaha, pemerintah, dan pengelola infrastruktur. KAI, lanjut dia, mengambil peran pada distribusi barang dalam volume besar dan perjalanan antarkota yang terjadwal sesuai karakteristik transportasi kereta api.

"Tidak semua barang harus dibawa dengan kereta api dan tidak semua kebutuhan dapat dijawab oleh satu moda, yang dibutuhkan Indonesia adalah sistem yang mampu menempatkan setiap moda pada fungsi yang paling efisien," ujar Anne.

Pertumbuhan angkutan retail tersebut berlangsung di tengah agenda pemerintah untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional. Biaya logistik Indonesia sebesar 14,29 persen terhadap produk domestik bruto, dengan sasaran penurunan menjadi 12,5 persen pada 2029 dan 8 persen pada 2045.

Anne menyatakan akan melanjutkan kolaborasi dengan mitra logistik, pelaku usaha, kawasan industri, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengembangkan layanan angkutan retail. Penguatan integrasi distribusi, konsolidasi barang, kepastian jadwal, dan pemanfaatan kapasitas akan dilakukan menyesuaikan kebutuhan pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....