HWDI Dorong Regenerasi Kepemimpinan Perempuan Muda Penyandang Disabilitas

  • 08 Agt 2026 13:37 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • HWDI mendorong penguatan regenerasi kepemimpinan perempuan muda penyandang disabilitas di Indonesia melalui proses pemberdayaan yang berkelanjutan dan terstruktur.
  • Ketua Umum HWDI Revita Alvi menekankan bahwa kepemimpinan tidak dapat dibentuk hanya melalui satu atau dua kali pelatihan, tetapi memerlukan komitmen jangka panjang.
  • Perempuan muda penyandang disabilitas membutuhkan dukungan sistematis agar dapat mengembangkan keberanian bersuara dan berkontribusi dalam kepemimpinan organisasi dan masyarakat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) mendorong penguatan regenerasi kepemimpinan perempuan muda penyandang disabilitas di Indonesia. Ketua Umum HWDI, Revita Alvi, mengatakan bahwa kepemimpinan tidak dapat dibentuk hanya melalui satu atau dua kali pelatihan.

“Kita membutuhkan lebih banyak perempuan muda disabilitas yang berani bersuara, tetapi keberanian ini tidak datang begitu saja,” ujar Revita Alvi, secara daring, pada Jumat 7 Agustus 2026.

Menurutnya, perempuan muda penyandang disabilitas membutuhkan pengetahuan, kesempatan, pendampingan, jaringan, serta ruang untuk menyampaikan gagasan dan pengalamannya. Hal ini lah yang berusaha diwujudkan oleh HWDI melalui program Young Women with Disability Leadership.

“Kalau ingin regenerasi HWDI berjalan, kita harus berani memberikan kepercayaan kepada yang muda. Berikan kesempatan kepada mereka untuk memimpin diskusi, menjadi narasumber, mewakili organisasi, masuk ke forum-forum daerah dan belajar langsung dari proses advokasi,” katanya.

Dalam program tersebut, HWDI memilih 15 perempuan muda penyandang disabilitas dari 12 provinsi, setelah sebelumnya menerima 109 pendaftar. Para peserta tersebut mengikuti rangkaian pembelajaran, penugasan, diskusi, coaching, wawancara, hingga pelatihan tatap muka.

Setelah itu, mereka juga menyusun mini action berdasarkan persoalan yang dihadapi di daerahnya masing-masing. Revita menjelaskan, perkembangan setiap peserta tidak berjalan dengan kecepatan yang sama. Sebagian telah mampu membawa gagasan kepada pemerintah dan membangun komunikasi dengan pemangku kepentingan, sementara peserta lainnya masih membutuhkan pendampingan untuk menjalankan rencana aksinya.

“Saya berharap ada koneksi yang berlanjut antara perempuan muda disabilitas, jaringan HWDI, termasuk pemerintah daerahnya atau pemangku kepentingan lainnya, ada tindak lanjut atas persoalan yang mereka bawa,” ucap Revita.

HWDI menilai kondisi tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan, di mana peserta didorong untuk belajar berbicara, bernegosiasi, mendengarkan pihak lain, menghadapi berbagai respons, hingga mencoba kembali ketika menemui hambatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....