Menaker: Penguatan STEM Jadi Kunci Kurangi Kesenjangan Kompetensi Tenaga Kerja
- 06 Agt 2026 21:27 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Yassierli, menilai bahwa penguatan pendidikan Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM) perlu terus didorong untuk mengurangi kesenjangan kemampuan yang masih terjadi di dunia kerja Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Yassierli, saat menghadiri rapat tahunan Asosiasi MIPA Lembaga Tenaga Kependidikan (LPTK) Indonesia (AMLI) di Jakarta, Kamis 6 Agustus 2026.
Dalam kesempatan itu, Ia mengungkapkan bahwa tingkat kesenjangan kemampuan tenaga kerja di Indonesia masih berada pada kisaran 30-40 persen, baik secara vertikal maupun horizontal. Ia menjelaskan bahwa kesenjangan kemampuan vertikal terjadi ketika posisi pekerjaan yang sebenarnya ditujukan bagi lulusan SMA atau sederajat, justru diisi oleh lulusan sarjana. Sementara itu, kesenjangan kemampuan horizontal terjadi ketika seseorang bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau keilmuannya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Menaker mendorong kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk LPTK bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), dalam memperkuat pendidikan STEM di Indonesia.
“Ada sekian banyak dekan beserta jajarannya melakukan koordinasi, melakukan sinergi terkait dengan bagaimana mereka bisa mempersiapkan lulusan yang lebih baik. Jadi ini hal yang positif dan kita pasti dukung,” katanya.
Yassierli menegaskan bahwa penguasaan STEM merupakan kompetensi dasar yang perlu dimiliki oleh calon tenaga kerja agar mampu menjawab kebutuhan industri. Guru Besar Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut juga menilai kurikulum dan materi pembelajaran STEM di perguruan tinggi perlu diperbarui secara berkala, agar selaras dengan perkembangan dunia kerja dan kebutuhan industri.
“Ini menjadi sebuah basic kompetensi yang penting untuk dimiliki oleh para pekerja kita nanti. Dunia industri memiliki peta kebutuhan jabatan tersendiri dan teman-teman di kampus memiliki profil program sendiri, program studi (yang harus lebih spesifik),” ucap Menaker Yassierli.
Sementara itu, Ketua AMLI, Edy Cahyono, mengatakan bahwa lulusan perguruan tinggi di Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar. Baik akibat adanya keterbatasan peluang kerja, maupun tuntutan untuk memiliki kompetensi yang beragam agar mampu bersaing di era yang terus berkembang.
“Untuk itu kami duduk di sini bersama-sama untuk berdiskusi bagaimana setiap program studi bisa mengakselerasi, berinovasi, agar dapat memecahkan permasalahan yang kita hadapi bersama,” ujarnya.
Di sisi lain, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Hadi Nasbey, menyampaikan bahwa penunjukan FMIPA UNJ sebagai tuan rumah rapat tahunan AMLI menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama antar-fakultas MIPA LPTK di Indonesia. Menurut Hadi, dinamika pendidikan tinggi saat ini menuntut kolaborasi yang lebih erat dalam pengembangan kurikulum, peningkatan mutu pembelajaran, pelaksanaan riset, hingga pengabdian kepada masyarakat.
“Melalui forum ini kami berharap lahir berbagai rekomendasi strategis yang dapat memperkuat peran MIPA LPTK dalam mencetak pendidik, peneliti, dan lulusan, yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia kerja,” ucap Hadi.
(Intan Sayyidah Putri - Universitas Padjadjaran)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....