Pengamat Minta Pertamina Antisipasi Gangguan Distribusi BBM akibat Kemarau
- 28 Jul 2026 15:37 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria meminta PT Pertamina Patra Niaga mengantisipasi gangguan distribusi BBM selama musim kemarau, khususnya di wilayah yang bergantung pada transportasi sungai.
- Penurunan debit air dan pendangkalan sungai pada musim kemarau dapat menghambat operasional kapal pengangkut BBM dan mengganggu pasokan energi di sejumlah daerah.
- Antisipasi dini diperlukan untuk mencegah terjadinya krisis pasokan bahan bakar minyak akibat kondisi alam musiman yang mengurangi kapasitas transportasi sungai.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria meminta PT Pertamina Patra Niaga mengantisipasi potensi gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) selama musim kemarau, terutama di wilayah yang masih mengandalkan transportasi sungai sebagai jalur utama pengiriman energi.
Menurut Sofyano, penurunan debit air dan pendangkalan sungai pada musim kemarau dapat menghambat operasional kapal pengangkut BBM sehingga berisiko mengganggu pasokan di sejumlah daerah apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Musim kemarau tidak boleh sampai berubah menjadi krisis distribusi BBM. Di sejumlah daerah, sungai merupakan jalur utama pengangkutan BBM. Ketika debit air turun drastis, kapal tanker maupun ponton tidak dapat beroperasi secara normal sehingga distribusi BBM berpotensi terlambat dan pada akhirnya mengganggu pasokan di SPBU,” ujar Sofyano dalam keterangannya, Selasa, 28 Juli 2026.
| Baca juga: Pakar Nilai Kenaikan BBM Non-Subsidi Wajar |
Ia menjelaskan, sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak berada di sepanjang Sungai Kapuas dan anak sungainya di Kalimantan Barat menuju Sanggau, Sintang, Melawi, hingga Kapuas Hulu. Potensi serupa juga terdapat di Sungai Mahakam di Kalimantan Timur, Sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Sungai Kahayan, Sungai Katingan, Sungai Musi di Sumatera Selatan, serta sejumlah sungai di wilayah pedalaman Papua.
Menurutnya, berkurangnya kedalaman alur pelayaran dapat memaksa kapal mengurangi muatan, bahkan tidak dapat melintas pada titik-titik tertentu. Kondisi tersebut berpotensi memperlambat distribusi, meningkatkan biaya logistik, dan memperbesar risiko kekurangan stok BBM di daerah terpencil.
Karena itu, Sofyano meminta Pertamina Patra Niaga menerapkan langkah mitigasi sejak awal musim kemarau, termasuk memperkuat buffer stock di Fuel Terminal maupun SPBU yang berada di wilayah rawan gangguan distribusi.
Selain itu, ia mendorong Pertamina melakukan pemantauan kondisi sungai secara berkala bersama BMKG, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, dan otoritas pelayaran agar perubahan debit air dapat diprediksi lebih awal.
Sofyano juga menyarankan Pertamina menyiapkan jalur distribusi alternatif melalui transportasi darat apabila jalur sungai tidak lagi dapat dilalui, mengoperasikan kapal atau ponton dengan draft lebih rendah, serta memperkuat sistem pemantauan stok BBM secara digital.
“Pertamina juga harus menyiapkan jalur distribusi alternatif melalui transportasi darat apabila jalur sungai tidak lagi dapat dilalui, mengoperasikan kapal atau ponton dengan draft lebih rendah, serta memperkuat sistem pemantauan stok BBM secara digital agar setiap potensi kekurangan pasokan dapat segera direspons,” katanya.
Ia menambahkan, simulasi penanganan gangguan distribusi BBM di wilayah rawan perlu dilakukan secara berkala agar koordinasi antara Pertamina, pemerintah daerah, aparat keamanan, operator transportasi, dan pengelola SPBU dapat berjalan efektif saat terjadi kondisi darurat.
Sofyano menegaskan bahwa ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan stok BBM, tetapi juga kemampuan mendistribusikannya kepada masyarakat. Oleh karena itu, ia menilai musim kemarau perlu diperlakukan sebagai risiko logistik nasional yang harus dimitigasi sejak dini guna menjaga kelancaran pasokan BBM di seluruh wilayah Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....