Warga Diminta Waspadai Korsleting Listrik Cegah Penyebab Kebakaran Rumah
- 02 Jun 2026 16:18 WIB
- Jakarta
rri.co.id, Jakarta - Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran yang disebabkan oleh korsleting listrik. Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat penduduk.
Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Kota Administrasi Jakarta Utara, Budi Haryono, mengatakan bahwa sebagian besar kasus kebakaran yang terjadi di Jakarta masih didominasi oleh faktor kelistrikan. Menurutnya, masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi instalasi listrik di rumah masing-masing.
“Masalah listrik menjadi perhatian bagi kita karena sampai saat ini menjadi penyebab banyak kebakaran. Himbauan kepada masyarakat, hati-hati dengan penggunaan listrik,” kata Budi Haryono dalam program Majalah Udara Live Kentongan RRI Pro 1 Jakarta, Selasa 02 Mei 2026.
Budi mencontohkan peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, yang berdasarkan dugaan sementara dipicu oleh gangguan kelistrikan. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi masyarakat agar lebih serius melakukan langkah-langkah pencegahan.
Menurutnya, bangunan hunian padat penduduk memiliki tingkat kerawanan yang lebih tinggi terhadap kebakaran. Selain jarak antarbangunan yang sangat dekat, banyak bangunan menggunakan material yang mudah terbakar serta memiliki akses yang terbatas bagi petugas pemadam kebakaran.
Kondisi tersebut diperparah dengan sulitnya memperoleh sumber air dan terbatasnya ruang gerak kendaraan pemadam kebakaran saat memasuki kawasan permukiman padat. Akibatnya, api dapat dengan cepat merambat ke bangunan lain sebelum berhasil dikendalikan.
Untuk mengurangi risiko kebakaran, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Gulkarmat telah mengembangkan program hidran mandiri di sejumlah wilayah rawan kebakaran. Program tersebut dilengkapi dengan reservoir air, pompa kebakaran, pipa, dan selang yang dapat digunakan warga untuk melakukan pemadaman awal sebelum petugas tiba di lokasi.
Selain itu, Gulkarmat juga menjalankan program penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) di lingkungan warga. “Kita menyiapkan program APAR, satu RT dua APAR. Itu juga usaha kita untuk mencegah dan meminimalisir bencana kebakaran,” ujar Budi.
Budi menjelaskan, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda instalasi listrik yang tidak lagi aman digunakan. Beberapa di antaranya adalah usia kabel yang sudah lebih dari 20 tahun, penggunaan peralatan listrik yang tidak berstandar SNI, kabel yang rusak akibat gigitan tikus, serta stop kontak yang mulai menghitam atau mengeluarkan tanda-tanda panas berlebih.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mematikan atau mencabut peralatan listrik saat meninggalkan rumah dalam waktu lama. Jika tercium bau kabel terbakar atau muncul percikan api, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menurunkan MCB untuk memutus aliran listrik sebelum melakukan pemadaman.
“Kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaga rumah dan kampung kita. Dan kalau tidak sekarang, kapan lagi. Mari kita jaga Jakarta bersama,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....