Sebanyak 19 Mahasiswa Terima Bantuan Riset Dana Darma Pancasila Batch 3 2026
- 22 Apr 2026 21:25 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sebanyak 19 mahasiswa terpilih sebagai penerima Bantuan Riset Dana Darma Pancasila Batch 3 Tahun 2026, yang diharapkan mampu mendorong transformasi nilai-nilai kebangsaan dari sekadar wacana normatif menjadi ilmu pengetahuan dan praktik nyata.
Pembekalan bagi para penerima bantuan digelar dalam kegiatan bertajuk Tiga Ranah Pancasila, di Jakarta, Rabu, 22 April 2026. Program tersebut bukan hanya bentuk dukungan finansial, melainkan investasi intelektual bagi masa depan bangsa.
“Kami berharap lahir kajian-kajian ilmiah yang memperdalam pemahaman Pancasila sebagai dasar negara sekaligus falsafah hidup bangsa. Pancasila harus menjadi ideologi kerja, bukan hanya slogan,” ujar Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo.
Pontjo menegaskan bahwa karakter kebangsaan Indonesia bersifat terbuka, inklusif, dan kosmopolitan. Dengan karakter tersebut, Indonesia dinilai tidak perlu ragu menghadapi arus globalisasi. “Sejak awal kita adalah bangsa yang siap berinteraksi dan bekerja sama dengan dunia internasional,” katanya.
Lebih lanjut Pontjo juga menyoroti persepsi terhadap generasi milenial dan Gen Z yang kerap mendapat stigma negatif. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada generasinya, melainkan pada metode pembelajaran yang belum adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Pembelajaran Pancasila masih terlalu konvensional. Padahal generasi muda bisa mengekspresikan nilai kebangsaan melalui medium kreatif seperti film, animasi, hingga karya digital,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Yayasan Dana Darma Pancasila Yudi Latif menjelaskan bahwa 19 penerima terdiri dari 6 mahasiswa magister (S2) dan 13 mahasiswa doktor (S3). Masing-masing menerima bantuan sebesar Rp10 juta untuk S2 dan Rp17,5 juta untuk S3.
Dari total 55 pendaftar, hanya 19 yang dinyatakan lolos seleksi berbasis kualitas proposal. Yudi menegaskan bahwa integritas akademik menjadi fondasi utama dalam proses seleksi tersebut. “Mereka terpilih karena kekuatan gagasannya, bukan faktor lain,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa hingga saat ini Pancasila masih sering berada pada tahap “mitos”, yakni diyakini penting tetapi belum sepenuhnya dipahami cara penerapannya. Karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk mengonversinya menjadi Logos atau ilmu pengetahuan, lalu diwujudkan dalam Etos atau perilaku nyata.
“Ini bukan sekadar riset, tetapi bagian dari upaya membangun masa depan Indonesia dengan fondasi nilai yang relevan,” kata Yudi.
Program ini mengusung konsep Tiga Ranah Pancasila yang mencakup Ranah Tata Nilai (pembangunan karakter), Ranah Tata Kelola (sistem hukum dan demokrasi), serta Ranah Tata Sejahtera (ekonomi inklusif dan berkeadilan). Pendekatan ini diharapkan mampu menjembatani nilai ideologis dengan implementasi konkret dalam berbagai sektor.
Yudi menekankan bahwa pembangunan nasional tidak cukup hanya meniru sistem dari luar. Indonesia perlu merancang tata kelola dan sistem ekonomi yang berakar pada nilai Pancasila, agar kemakmuran dapat dirasakan secara merata, bukan hanya oleh segelintir kelompok.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....