Menteri Bahlil Sebut Tekanan Ekonomi akibat Geopolitik Mirip Era Covid-19

  • 08 Apr 2026 23:39 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut tekanan ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah memiliki kemiripan dengan kondisi saat pandemi Covid-19.

Menurutnya, meski aktivitas masyarakat kini berjalan normal, namun dampak ekonomi yang dirasakan memiliki kemiripan dengan masa krisis pandemi lalu.

“Kalau sekarang ini kan tekanan ekonominya tinggi. Ini seperti Covid ini kita sebenarnya,” kata Bahlil dalam acara Halal Bihalal DPP Partai Golkar di Jakarta, Rabu, 8 April 2026 malam.

“Bedanya Covid itu kita enggak bisa keluar rumah karena penyakit. Ini bisa kita keluar rumah tapi tekanan ekonominya ini beda-beda tipis dengan Covid,” sambungnya.

Pasalnya, menurut Bahlil tekanan ekonomi tersebut turut berdampak pada sektor energi nasional, kbususnya pada Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang masih sangat bergantung pada impor.

Ia membeberkan, dari total konsumsi LPG nasional sebesar 8,5 juta ton, produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6 juta ton atau sekitar 25 persen.

Bahlil menilai, ketergantungan impor hingga 75 persen itu membuat Indonesia sempat mengalami krisis pasokan.

“Jadi impor itu yang bikin saya pusing tidurnya agak repot. Nah, di tanggal 4 kemarin cadangan LPG kita itu tidak sampai 10 hari. Tanggal 4 kemarin. Idealnya itu kan harus minimal 10 hari,” ungkap Bahlil.

Namun, Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah bergerak cepat dengan melakukan negosiasi tambahan pasokan dari Jepang, Australia, hingga Brunei Darussalam.

“Tetapi alhamdulillah kita mampu mengarahkan beberapa kargo kita ya. Dan sekarang kapal sudah ada yang masuk dan cadangan kita sekarang sudah di atas 10 hari untuk LPG. Jadi sudah lewat,” ujar Bahlil.

Selain itu, Bahlil juga menyampaikan bawa pemerintah telah memutuskan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya yang bersubsidi.

Dia menilai, kenaikan harga BBM di tengah kondisi ekonomi yang berat justru akan memperparah beban masyarakat.

“Karena kalau kita naikkan BBM dalam kondisi normal, itu mungkin masih ada kepekaan karena enggak ada tekanan ekonomi yang luar biasa. Jadi kita naikkan pun clear. Tapi kalau sekarang ini kan tekanan ekonominya tinggi,” tuturnya.

Bahkan, Bahlil mengaku bahwa dirinya mengusulkan kepada Presiden agar harga BBM subsidi tetap dijaga meski harga minyak mentah Indonesia (ICP) mencapai 100 dolar AS per barel.

“Saya meyakinkan dalam diskusi kami, saya menyampaikan kepada Bapak Presiden, ‘Pak, kalau sampai dengan ICP 100 dolar, kami mengusulkan kalau bisa jangan kita naikkan untuk harga minyak subsidi’,” kata Bahlil saat menirukan suaranya kepada Presiden.

Bahlil menegaskan, berbagai kebijakan tersebut merupakan hasil diskusi dan kolaborasi lintas kementerian. Ia menyebut, kerja sama yang solid menjadi kunci dalam menghadapi tekanan ekonomi global yang tidak menentu.

“Untung saja saya dengan Pak Menko, mantan Ketua Umum Golkar juga diskusi terus. Jadi ya ini hasil kolaborasi antara Ketum Golkar senior sama junior kira-kira begitu,” ucapnya sambil tersenyum.

Dia pun mengaku, sempat terjadi perdebatan alot dan diskusi yang luar biasa dalam menyelesaikan persoalan krisis energi lalu.

“Tapi alhamdulillah berkat kerja tim, komunikasi yang baik, saya menyampaikan dengan senang hati bahwa masa krisis kita sudah lewat. Masa krisis LPG itu sebenarnya kemarin. Ini saya sampaikan saja jujur,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....