Sembilan Tokoh Sampaikan Seruan Kebangsaan, Usut Tuntas Kasus Andrie Yunus
- 07 Apr 2026 16:08 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sembilan tokoh menyampaikan seruan kebangsaan terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus di Kwitang, Jakarta Pusat, pada Selasa, 7 April 2026. Dengan tegas, mereka membawa pesan kebangsaan sambil memegang setangkai bunga mawar putih.
Seruan itu disampaikan oleh Busro Muqoddas, Sukidi, Halida Hatta, Karlina Supelli, Zumrotin K. Susilo, Lukman Hakim Saifuddin, Jacky Manuputty, Suciwati, dan Gomar Gultom. Serangan terhadap Andrie merupakan ancaman terhadap generasi muda yang memperjuangkan keadilan dan nilai kemanusiaan.
“Sebagai orang tua katakanlah, mengajak seluruh rakyat dan bangsa Indonesia, tua maupun muda, untuk bersama-sama merasakan apa yang dialami Andrie. Itu bukan serangan pribadi, melainkan serangan kepada generasi muda yang terus bergerak untuk memperjuangkan Indonesia yang adil, beradab, tanpa kekerasan,” kata filsuf sekaligus astronom Karlina Supelli.
Andrie Yunus adalah Wakil Koordinator Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan
Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Pada Kamis, 12 Maret 2026, pukul 23.47 WIB, ia diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.
Kemudian, Andrie segera dilarikan ke RSCM untuk mendapatkan penanganan medis. Sekitar 20 persen tubuhnya mengalami luka bakar dan mata kanannya mengalami trauma kimia.
Halida Hatta menilai Andrie merepresentasikan semangat generasi muda dalam memperjuangkan keadilan di tengah situasi demokrasi saat ini. Ia menyebut keberanian tersebut justru dihadapkan pada risiko kekerasan.
“Generasi seperti Andrie tumbuh dengan kesadaran bahwa mencintai negara bukan berarti diam pada ketidakadilan, melainkan berani menyuarakannya, meski risiko kekerasan dan teror terus mengintai,” ujar putri bungsu proklamator Mohammad Hatta itu.
Para tokoh juga menyoroti pentingnya penegakan hukum yang adil dan independen dalam kasus tersebut. Mereka menilai tanpa pengusutan yang transparan dan tuntas, kekerasan terhadap aktivis berpotensi berulang.
“Kami menyerukan membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta yang bekerja transparan, akuntabel, dan bebas intervensi, melibatkan profesional dari unsur pemerintah dan masyarakat sipil,” kata Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Jacky Manuputty.
Selain itu, mereka menekankan perlunya jaminan perlindungan terhadap generasi muda yang aktif menyuarakan kritik. Menurut mereka, rasa aman menjadi prasyarat utama bagi keberlanjutan demokrasi.
“Kami sebagai orang tua berpegangan tangan dengan anak muda, dengan anak-anak kami, dengan cucu-cucu kami, dan tidak akan tunduk terhadap teror. Tidak akan tunduk terhadap upaya-upaya penggentaran,” kata Karlina.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....