Strategi Presiden Prabowo Terkait Penggunaan Kompor Listrik Dinilai Tepat

  • 17 Mar 2026 19:40 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Dorongan penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik yang digagas Presiden Prabowo Subianto dinilai bukan sekadar kebijakan transisi energi, melainkan strategi kunci untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Pengamat kebijakan energi sekaligus Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria menilai langkah tersebut mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.

“Arahan Presiden untuk mendorong kendaraan dan kompor listrik merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi,” ujar Sofyano, di Jakarta, Selasa, 17 Maret 2026.

Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap energi impor selama ini masih cukup tinggi, dengan jalur distribusi yang sangat bergantung pada kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Kondisi tersebut dinilai rentan terhadap gejolak geopolitik, termasuk konflik internasional yang dapat mengganggu pasokan energi.

Dalam konteks tersebut, Sofyano menilai kebijakan elektrifikasi menjadi solusi rasional karena Indonesia memiliki kapasitas produksi listrik yang relatif memadai. Potensi ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk menggantikan konsumsi energi berbasis fosil, baik di sektor rumah tangga maupun transportasi.

“Dengan kapasitas listrik yang cukup besar, program elektrifikasi bisa diarahkan untuk menggantikan penggunaan energi berbasis impor seperti LPG dan BBM,” katanya.

Ia menjelaskan, penggunaan kompor listrik menjadi langkah paling realistis dalam jangka pendek karena langsung menyasar konsumsi LPG rumah tangga yang selama ini masih didominasi impor. Sementara itu, percepatan adopsi kendaraan listrik diyakini mampu menekan konsumsi BBM secara signifikan dalam jangka menengah hingga panjang.

Selain itu, ketersediaan cadangan batu bara nasional yang masih melimpah dinilai dapat menjadi penopang stabilitas pasokan listrik, terutama jika terjadi gangguan pasokan energi global. Hal ini memberikan ruang bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi tanpa mengorbankan ketahanan pasokan.

Sofyano menegaskan, elektrifikasi seharusnya tidak dipandang sebagai respons sesaat terhadap dinamika global, melainkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun sistem energi yang mandiri dan berkelanjutan. “Elektrifikasi harus menjadi strategi besar untuk membangun ketahanan energi nasional yang kuat, bukan sekadar reaksi terhadap situasi global,” ujarnya.

Dengan kombinasi kebijakan elektrifikasi dan pemanfaatan sumber daya domestik, langkah pemerintah dinilai dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas energi nasional sekaligus mengurangi tekanan akibat fluktuasi pasar energi global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....