Pengurus Baru YBRN Dilantik, Siap Majukan Budaya Rimpu

  • 07 Feb 2026 19:00 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Yayasan Budaya Rimpu Nusantara atau YBRN resmi melantik dan mengukuhkan pengurus periode 2025-2030 dalam sebuah acara yang digelar di Aula Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Sabtu, 7 Februari 2026. Pelantikan ini menandai dimulainya kepemimpinan baru yayasan berbasis pelestarian budaya dan kerajinan daerah Bima dan Dompu.

Hj. Nurhaidah H. Sarudjin dipercaya sebagai Ketua Umum baru, didampingi Kurniati Yusdono dan Ratna Sari sebagai Sekretaris Umum dan Bendahara Umum. Sejumlah bidang turut dibentuk, antara lain bidang Budaya, Sosial, Pendidikan, Ekonomi Kreatif dan UMKM, Pemberdayaan Perempuan dan Anak, serta bidang Keagamaan, yang secara berurutan diketuai oleh Burhanuddin, Siti Mutmainah, Rahmansyah, Widya Thahir, Siti Nurlaila, dan Ahmad Yasin.

Pelantikan dibuka oleh tarian pembuka, Tari Wunga Bongi Monca dan ditutup dengan peragaan busana adat dan musik tradisional Bima. Terlihat pula beberapa demisioner, tokoh masyarakat Bima dan Dompu, mantan gubernur Nusa Tenggara Barat periode 1998-2003 Harun Al Rasyid, dan Sekretaris Kota Jakarta Timur Eka Darmawan, dalam acara ini.

Ketua Umum Yayasan Budaya Rimpu Nusantara Hj. Nurhaidah H. Sarudjin (tengah), ditemani pengurus harian saat ditanya wartawan tentang visi dan program kerja yayasan lima tahun kedepan, di Aula Kantor Wali Kota Jakarta Timur, pada Sabtu 7 Februari 2026. (Foto: RRI/Setyo Agung)

Usai pelantikan, Ketua Umum Hj. Nurhaidah menjelaskan kepada RRI Jakarta, program kerja YBRN akan berfokus pada pelestarian budaya dan kerajinan khas Nusa Tenggara Barat. Ia menjelaskan, kerajinan utama yang diangkat meliputi tenun tembe nggoli, songket, dan salungka yang selama ini dihasilkan para perajin lokal. Yayasan menargetkan karya-karya tersebut dapat dikenal lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Kami akan bekerja sama dengan Dekranasda Provinsi, Kabupaten dan Kota Bima, juga Kabupaten Dompu untuk mengangkat UMKM agar bisa ikut pameran di tingkat nasional maupun internasional. Yang paling utama itu tenunnya ya, tembe nggoli, songket, dan salungka,” kata Hj. Nurhaidah.

Perempuan di atas panggung sedang meragakan pemakaian Rimpu, busana adat dari Bima dan Dompu untuk perempuan, dalam acara pelantikan dan pengukuhan pengurus Yayasan Budaya Rimpu Nusantara periode 2025-2030, di Aula Kantor Wali Kota Jakarta Timur, pada Sabtu 7 Februari 2026. (Foto: RRI/Setyo Agung)

Selain mendorong promosi, yayasan juga berencana melakukan edukasi kepada para penenun guna meningkatkan kualitas produk. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing kerajinan sekaligus berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.

“Oleh karena itu, kami akan melakukan edukasi (dan pemberdayaan) kepada para penenun di Bima dan Dompu, agar mereka dapat meningkatkan kualitas (tenun). Nila utama yang ingin kami angkat itu sendiri adalah Rimpu,” ujar Hj. Nurhaidah.

Perempuan di atas panggung sedang berjalan, peragaan busana adat dan tradisional dari kain tenun khas masyarakat Bima dan Dompu, di Aula Kantor Wali Kota Jakarta Timur, pada Sabtu 7 Februari 2026. Dalam acara pelantikan, panitia turut menggelar peragaan busana Rimpu dan pemakaian Sambolo. (Foto: RRI/Setyo Agung)

Nilai budaya utama yang diusung yayasan adalah Rimpu, yaitu cara berpakain perempuan Bima dan Dompu, dengan dua kain tenun khas pulau Sumbawa, yang menutupi bagian kepala dan tubuh mereka. Kearifan lokal telah menyatu dan beradaptasi dengan nilai keislaman yang membentuk identitas perempuan Bima dan Dompu hingga sekarang.

Yayasan Budaya Rimpu Nusantara mengajak generasi muda untuk aktif berkreasi dan terlibat dalam pelestarian budaya Rimpu agar tidak lekang oleh zaman. “Mari satukan semangat untuk mengembangkan budaya dan kerajinan, ini juga untuk memajukan perekonomian daerah kita,” kata Hj. Nurhaidah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....