Media Sosial Jadi Tantangan Baru dalam Pengawasan Remaja
- 05 Okt 2026 16:05 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat remaja semakin mudah mengakses berbagai konten melalui media sosial. Kondisi tersebut memberikan peluang positif bagi perkembangan kreativitas dan wawasan, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru dalam pengawasan perilaku remaja.
Psikiater dr. Kusuma Minayati, SpKJ, mengatakan remaja saat ini tumbuh di lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu akses informasi relatif terbatas, kini berbagai informasi dapat diperoleh dengan mudah, termasuk informasi yang belum tentu benar maupun berpotensi membahayakan.
“Informasi sangat deras, sangat mudah dicapai, baik yang benar maupun yang enggak benar. Di sinilah semakin perlu penjagaan terhadap apa yang dikonsumsi atau apa yang didapatkan menjadi input bagi remaja,” ujar dr. Kusuma dalam program Beranda Asta Cita Indonesia Sehat RRI Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026
Menurutnya, salah satu tantangan yang perlu diwaspadai adalah munculnya konten yang secara halus dapat mendorong remaja melakukan perilaku berisiko. Konten tersebut tidak selalu tampil secara terang-terangan sebagai sesuatu yang berbahaya, tetapi dapat dikemas sebagai hal yang dianggap biasa atau mengikuti tren.
Ia mencontohkan, remaja dapat menemukan konten yang memperlihatkan bagian tubuh atau perilaku tertentu melalui media sosial. Pada awalnya, konten tersebut bisa saja dianggap sebagai cara untuk tampil menarik atau mengikuti lingkungan pergaulan. Namun, paparan yang terus-menerus dapat memengaruhi cara pandang dan perilaku remaja.
Tidak hanya itu, internet juga memungkinkan remaja mencari informasi mengenai perilaku berisiko, termasuk cara melakukan tindakan menyakiti diri sendiri atau menemukan komunitas yang memberikan dukungan terhadap perilaku tersebut. Menurut dr. Kusuma, dukungan yang diperoleh dari komunitas di dunia maya belum tentu merupakan dukungan yang sehat.
“Bisa mencari komunitas kapan saja sehingga dia mendapatkan support, dalam tanda kutip support-nya, mendapatkan support yang dipersepsikan diperlukan,” katanya.
Karena itu, pengawasan terhadap remaja menurutnya tidak cukup dilakukan dengan membatasi akses atau sekadar melarang penggunaan media sosial. Orang tua, kakak, guru dan lingkungan terdekat perlu membangun hubungan yang baik agar mengetahui perubahan perilaku maupun aktivitas remaja.
Dr. Kusuma menekankan pentingnya menjaga connection dengan remaja melalui komunikasi yang konsisten. Hubungan tersebut perlu dibangun melalui kualitas sekaligus kuantitas interaksi, sehingga ketika ditemukan sesuatu yang mengkhawatirkan, orang tua dapat membicarakannya tanpa membuat remaja merasa dihakimi.
“Connection itu perlu dibangun, ada kualitasnya, tapi kuantitas pun ada. Jadi, secara konsisten kita bisa punya hubungan yang cukup baik dengan remaja kita,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan yang terlalu menghakimi justru dapat membuat pesan yang ingin disampaikan orang tua tidak diterima dengan baik. Remaja bisa merasa diserang sehingga memilih menutup diri.
Ia menambahkan, orang dewasa juga perlu memahami bahwa cara mendampingi remaja tidak dapat disamakan dengan ketika mereka masih anak-anak. Pendekatan perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing remaja, termasuk mengetahui kapan harus tegas, kapan menerapkan aturan secara konsisten dan kapan memberikan ruang yang lebih fleksibel.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....