Nyeri Dada, Jangan Anggap Sepele Bisa Jadi Tanda Jantung Butuh Perhatian Medis

  • 09 Jun 2026 15:40 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Angin Duduk dapat menjadi sinyal peringatan penyakit kardiovaskular yang dikenal sebagai angina pektoris; perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis
  • Untuk membantu mencegah penyakit kardiovaskular, pengelolaan ketat kadar kolesterol jahat atau LDL-C menjadi langkah utama

RRI.CO.ID, Jakarta - Angin Duduk, yang kerap dianggap sebagai masuk angin biasa dan ditangani dengan cara tradisional seperti Kerokan atau kerok, dapat menjadi tanda awal angina pektoris, yaitu kondisi jantung serius yang membutuhkan perhatian medis.

Berdasarkan studi One ACS Registry yang melibatkan 14 rumah sakit di Indonesia, dari pasien infark miokard akut yang membutuhkan penanganan darurat pada periode Juli 2018 hingga Juni 2019, sebanyak 34,8% tidak mendapatkan terapi reperfusi untuk membuka kembali pembuluh darah jantung yang tersumbat. Hanya 21,8% pasien yang menerima penanganan dalam waktu tiga jam sejak gejala muncul.

Temuan ini menunjukkan bahwa banyak pasien belum langsung mengenali gejala awal seperti nyeri dada sebagai tanda bahaya dan baru mencari pertolongan medis ketika kondisi sudah memburuk. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kardiovaskular, Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menggelar sesi edukasi media di Jakarta.

Kegiatan ini menekankan pentingnya perubahan kesadaran agar gejala nyeri dada seperti Angin Duduk tidak dianggap sebagai pegal, kelelahan, atau masuk angin biasa, tetapi dipahami sebagai sinyal untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berafiliasi dengan PERKI, mengingatkan masyarakat mengenai bahaya Angin Duduk yang sering dianggap ringan dan coba diatasi dengan kerokan sebenarnya merupakan gejala khas angina pektoris, yaitu kondisi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup.

"Terutama bila nyeri terasa seperti ditekan di bagian tengah dada, menjalar ke rahang atau lengan, atau muncul bahkan saat beristirahat, kondisi tersebut dapat menjadi tanda peringatan angina tidak stabil atau infark miokard akut," ujar dr. Febtusia Puspitasari dalam paparannya, Selasa, 9 Juni 2026.

Menurutnya, jika dibiarkan hingga pembuluh darah benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berujung langsung pada infark miokard akut atau kematian mendadak. “Pasien perlu segera mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan memulai pengobatan yang sesuai,” katanya.

dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menjelaskan bahwa pengelolaan ketat kadar LDL-C, yang dikenal sebagai kolesterol jahat, hingga di bawah 55 mg/dL penting untuk membantu mengendalikan salah satu penyebab utama angina.

"Bagi pasien yang sulit mencapai target dengan terapi statin tunggal konvensional, atau memiliki kekhawatiran terhadap efek samping statin dosis tinggi, pendekatan jalur ganda atau dual-pathway berbasis kombinasi statin dan ezetimibe dapat menjadi pilihan yang efektif. Pendekatan ini bekerja dengan menghambat sintesis kolesterol di hati sekaligus mengurangi penyerapan kolesterol di usus," ucap dr. Wicak.

la menekankan pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani terapi jangka Panjang. Tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Therapeutics menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah tablet yang harus diminum setiap hari, semakin rendah Tingkat kepatuhan pasien.

“Pada pasien yang mengonsumsi lima jenis obat atau lebih, tingkat kepatuhan dalam satu tahun dapat turun hingga hanya sekitar 50 persen. Sementara itu, studi yang dimuat dalam Journal of the American Medical Association menemukan bahwa sekitar separuh pasien yang mendapat terapi statin berhenti minum obat dalam dua tahun pertama, bukan karena efek samping, melainkan karena kelelahan akibat banyaknya obat yang harus dikonsumsi setiap hari," ujarnya.

dr. Wicak memperkenalkan terapi kombinasi Daewoong sebagai salah satu opsi pengobatan yang dirancang untuk meningkatkan kemudahan minum obat dengan menggabungkan dua zat aktif dalam satu tablet untuk mendukung pengelolaan kolesterol yang lebih optimal dan meningkatkan kemudahan bagi pasien dalam menjalani pengobatan jangka panjang.

Sementara itu, Head of Indonesia Business Division Daewoong Pharmaceutical, Baik In Hyun mengatakan, selama lebih dari 20 tahun, Daewoong telah tumbuh bersama Indonesia dan berupaya berkontribusi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di negara ini.

“Melalui kolaborasi dengan PERKI ini, kami akan terus bekerja sama dengan para tenaga medis untuk menyebarkan informasi kesehatan yang akurat, berbasis sains, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Indonesia," kata Baik In Hyun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....