Terapi P-CAB Daewoong, Bantu Pasien di Indonesia Lepas dari GERD

  • 20 Sep 2026 00:20 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Prevalensi GERD di Indonesia terus meningkat, mendorong kebutuhan terapi P-CAB generasi baru.
  • Simposium paparkan bukti klinis Indonesia serta tingkat penyembuhan endoskopik 99,1% dari studi fase 3 di Korea Selatan.
  • Pakar gastroenterologi Korea Selatan dan Indonesia perkuat kolaborasi ilmiah untuk meningkatkan tata laksana penyakit saluran cerna.

RRI.CO.ID, Jakarta – Gastroesophageal Reflux Ddisease (GERD) menjadi salah satu masalah kesehatan saluran cerna yang semakin banyak ditemukan di Indonesia, seiring dengan perubahan pola makan dan gaya hidup. Berdasarkan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit GERD Indonesia 2022, prevalensi GERD pada populasi umum diperkirakan mencapai sekitar 9,35%.

Data IQVIA menunjukkan pasar obat antiulkus di Indonesia mencapai sekitar Rp2,55 triliun atau USD164,3 juta pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 6%. Selain itu, data dari rumah sakit rujukan tingkat tersier menunjukkan 55,4% pasien GERD mengalami esofagitis erosif. Kondisi ini menunjukkan pentingnya diagnosis yang tepat serta intervensi dini dengan terapi yang efektif dalam praktik klinis.

Dalam symposium ilmiah yang digelar PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong) di Jakarta, Jum’at, 18 September 2026, para pakar membahas strategi pengobatan GERD yang lebih optimal dan sesuai dengan karakteristik pasien Indonesia. Pembahasan juga mencakup hasil investigator-initiated trial (IIT) yang melibatkan 134 pasien di tiga rumah sakit besar di Jakarta.

Daewoong memaparkan berbagai hasil penelitian mengenai penggunaan terapi Potassium-Competitive Acid Blocker (P-CAB) pada pasien GERD sekaligus membahas penguatan kolaborasi akademik dengan tenaga medis di Indonesia.

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, Sp.PD, K-GEH, FACG, FACP yang hadir sebagai pembicara utama, menekankan pentingnya bukti klinis dalam negeri dalam menentukan strategi terapi GERD.

“Indonesia memiliki proporsi pasien GERD dengan esofagitis erosif yang cukup tinggi. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan klinis terhadap terapi generasi baru yang mampu memberikan supresi asam secara cepat dan kuat sejak awal pengobatan. Penyusunan panduan terapi berbasis bukti ilmiah yang sesuai dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia, serta didukung data klinis dari pasien Indonesia, memiliki nilai ilmiah yang sangat penting,” ujar Prof. Ari disela-sela peluncuran fexuprazan, terapi baru untuk gastroesophageal reflux disease (GERD) dari Daewoong.

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam (Foto : Istimewa)

Pengalaman klinis dan hasil penelitian dari Korea Selatan juga menjadi salah satu pembahasan utama dalam simposium. Prof. Ahn Ji Yong, Professor of Gastroenterology di Asan Medical Center dan University of Ulsan College of Medicine, menjelaskan bahwa penggunaan P-CAB di Korea Selatan terus berkembang untuk menjawab sejumlah kebutuhan klinis yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh terapi proton pump inhibitor (PPI).

“Di Korea Selatan, terapi P-CAB telah digunakan secara bertahap sehingga pengalaman klinis penggunaannya terus bertambah. Dalam studi fase 3 yang melibatkan 263 pasien Korea Selatan dengan esofagitis erosif, fexuprazan menunjukkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1% pada minggu ke-8, yang menunjukkan efektivitas klinis yang kuat,” kata Prof. Ahn.

dr. Wicak Prasetiadi, Brand and Marketing Manager PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia, mengatakan bahwa kehadiran fexuprazan diharapkan dapat memperluas pilihan terapi bagi pasien GERD di Indonesia.

“Dengan keunggulan bisa di konsumsi sebelum makan, lebih cepat mengatasi gejala dan cukup satu dalam sehari, kami berharap kehadiran fexuprazan dapat menjadi salah satu pendorong perkembangan tata laksana GERD di Indonesia,” ucap dr. Wicak.

r. Wicak Prasetiadi, Brand and Marketing Manager PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Foto : Istimewa)

Prof. Ji Won Kim, M.D., President Korean Gastroenterology Association sekaligus Professor, Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, Seoul National University College of Medicine, SMG-SNU Boramae Medical Center, yang bertindak sebagai Co-Chair dari Korea Selatan, mengatakan, “Peluncuran resmi fexuprazan di Indonesia menjadi momentum yang sangat berarti. Sebagai terapi P-CAB generasi baru, kami berharap fexuprazan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup pasien GERD di Indonesia,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....