Chatbot AI Rentan Pemgaruhi Kondisi Emosional Remaja

  • 02 Sep 2026 20:52 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membuat chatbot semakin mudah digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk sebagai tempat mencari dukungan emosional. Namun, penggunaan chatbot AI oleh anak-anak dan remaja untuk membicarakan persoalan pribadi dinilai memiliki risiko terhadap kondisi emosional mereka.

Dilansir dari Antara, pada Selasa 1 September 2026, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics menemukan adanya hubungan antara penggunaan chatbot AI untuk tujuan emosional dengan masalah emosional pada anak-anak dan remaja. Penelitian tersebut melibatkan hampir 40.000 siswa kelas empat hingga kelas 12 di Ontario, Kanada.

Dalam penelitian tersebut, lebih dari 21 persen siswa mengaku menggunakan AI generatif untuk tujuan afektif, seperti mencari dukungan emosional atau meminta saran mengenai persoalan dengan teman dan keluarga. Penggunaan chatbot untuk kebutuhan tersebut dikaitkan dengan skor masalah emosional yang lebih tinggi.

Direktur Divisi Psikiatri Anak dan Remaja di Northwell Zucker Hillside Hospital dan Cohen Children’s Medical Center, New York, Dr. Consuelo Cagande, menyoroti penggunaan chatbot AI oleh anak muda. Menurutnya, pemanfaatan chatbot untuk membantu mengatasi persoalan emosional perlu menjadi perhatian.

“Anak muda secara bertahap menggantikan kelompok sosial tradisional dan model pengobatan tradisional dengan chatbot dan algoritma ini,” kata Cagande.

Menurut Cagande, salah satu alasan remaja memilih chatbot AI untuk membicarakan masalah pribadi kemungkinan karena mereka merasa takut dihakimi ketika menyampaikan persoalan secara langsung kepada orang lain. Meski demikian, penggunaan teknologi tersebut tetap membutuhkan pengawasan dan pemahaman mengenai literasi digital.

Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan dan pendampingan bagi anak-anak yang menggunakan chatbot AI ketika menghadapi masalah emosional. Informasi yang diberikan chatbot belum tentu tepat sehingga pengguna tidak seharusnya menjadikannya sebagai satu-satunya sumber bantuan.

“Jika seorang anak memang menggunakan chatbot AI, mereka harus memberi tahu tenaga klinis mengenai informasi yang mereka dapatkan dari chatbot tersebut terkait masalah kesehatan mental mereka dan tidak serta-merta menganggapnya sebagai saran akhir,” ujar Cagande.

Cagande menyarankan agar AI generatif digunakan sebagai alat pelengkap, bukan sumber pertama ketika anak atau remaja mengalami tekanan emosional. Dukungan dari orang tua, guru, konselor sekolah, dokter, maupun tenaga profesional kesehatan mental tetap menjadi langkah penting dalam memperoleh bantuan yang sesuai.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi perlu diikuti dengan peningkatan literasi digital, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Penggunaan chatbot AI secara bijak dan dengan pendampingan diharapkan dapat membantu meminimalkan risiko informasi yang keliru maupun ketergantungan terhadap teknologi dalam menghadapi persoalan emosional.

(Siti Safitri Mahasiswa UHAMKA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....