Polusi Udara dan Cuaca Panas Picu Risiko Kesehatan

  • 20 Agt 2026 18:01 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Masyarakat harus mewaspadai paparan polusi udara terutama saat cuaca panas dan kering karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
  • Polutan PM2.5 dapat menyebabkan iritasi mata, tenggorokan, batuk, sesak napas, dan memperburuk asma serta infeksi saluran pernapasan.
  • Paparan polusi udara jangka panjang dapat menyebabkan gangguan kesehatan mulai dari iritasi saluran pernapasan hingga penyakit jantung dan paru.

RRI.CO.ID, Jakarta – Masyarakat diminta mewaspadai paparan polusi udara, terutama saat cuaca panas dan kering. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, mulai dari iritasi saluran pernapasan hingga penyakit jantung dan paru.

Praktisi Kesehatan Masyarakat Dr. dr. Ngabila Salama, MKM mengatakan paparan polutan seperti PM2.5 dapat menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak, serta memperburuk asma dan infeksi saluran pernapasan.

“Paparan jangka panjang juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, serta gangguan paru. Saat cuaca panas dan kering, tubuh menghadapi dua stresor sekaligus, yaitu panas dan polusi,” ujar Ngabila.

Ngabila mengimbau masyarakat memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah. Aktivitas fisik berat sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara memburuk, sementara kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru perlu lebih membatasi paparan.

Masyarakat juga disarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus ketika kualitas udara buruk. Perlindungan dari panas seperti payung atau topi, pakaian ringan berwarna cerah, kacamata hitam, dan tabir surya juga dianjurkan.

Selain itu, masyarakat perlu menjaga asupan cairan dengan minum air secara berkala dan tidak menunggu hingga merasa haus. Aktivitas di luar ruangan juga sebaiknya dihindari pada periode cuaca paling terik, terutama pukul 10.00 hingga 15.00 WIB.

Ngabila menegaskan masyarakat tidak harus menghentikan seluruh aktivitas di luar ruangan. Aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan cuaca untuk mengurangi risiko kesehatan.

“Prinsipnya, pantau polusi, kurangi paparan, lindungi diri, dan tetap hidrasi,” katanya.

Masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak berat, nyeri dada, pusing hebat, lemas, atau penurunan kesadaran.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....