Kalbe Perkuat Ekosistem Pengelolaan Diabetes Berkelanjutan
- 05 Agt 2026 14:52 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Indonesia menempati posisi kelima dunia dengan lebih dari 20 juta penyandang diabetes melitus berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF).
- Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 11,7 persen, namun tingkat kepatuhan pengobatan masih rendah terutama di kelompok usia produktif.
RRI.CO.ID, Jakarta - Beban penyakit diabetes melitus di Indonesia masih membayang berat, di tengah rendahnya tingkat kepatuhan pasien, dalam menjalani pengobatan dan pemantauan berkala. Untuk menekan risiko komplikasi berlanjut, PT Kalbe Farma Tbk memperkuat ekosistem pengelolaan diabetes, secara menyeluruh dari hulu ke hilir (end-to-end diabetes ecosystem).
Data International Diabetes Federation (IDF), menempatkan Indonesia pada posisi kelima dunia, dengan jumlah penyandang diabetes mencapai lebih dari 20 juta jiwa. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat, prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas, berada di angka 11,7 persen. Sayangnya, angka prevalensi tinggi itu tidak diimbangi dengan tingkat kepatuhan pengobatan, terutama pada kelompok usia produktif.
Pharma Director PT Kalbe Farma Tbk dr. Selvinna, M.Biomed, dalam diskusi media bertajuk "End-to-End Diabetes Ecosystem Support: Dari Pencegahan hingga Manajemen Jangka Panjang" di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026, menegaskan tantangan utama saat ini tidak hanya penanganan kasus baru, tetapi memastikan keberlanjutan pendampingan pasien pascadiagnosis.
"Diabetes bukan penyakit yang dapat dikelola dengan terapi sesaat. Penyandang diabetes membutuhkan pendampingan sejak memahami faktor risiko, deteksi dini, memulai terapi, hingga pengolahan penyakit jangka panjang. Melalui pendekatan ekosistem ini, kami berupaya memastikan penyandang diabetes tidak menjalani perawatan sendirian," ujar Selvinna.
Di kesempatan yang sama, Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD-KEMD, menyampaikan, edukasi berkelanjutan merupakan fondasi utama, agar pasien tidak terputus dari layanan kesehatan. Keberhasilan pengelolaan diabetes sangat bergantung pada pemahaman pasien, dalam menjalankan tata laksana medis.
"Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh obat atau teknologi kesehatan, tetapi juga kepatuhan pasien. Edukasi yang berkelanjutan membantu pasien membangun kepatuhan terapi, sekaligus mencegah terjadinya komplikasi," kata Ida Ayu.
Tantangan nyata di lapangan diakui oleh Ketua Cabang PERSADIA Jakarta Barat, dr. Marshell Tendean, Sp.PD, Subsp. E.M.D., FINASIM. Menurut dia, sebagian besar pasien baru datang berkonsultasi, ketika komplikasi sudah mulai muncul akibat keterlambatan deteksi dini, atau terapi yang terhenti di tengah jalan.
Kesulitan mempertahankan disiplin harian juga dirasakan oleh penyandang diabetes. Epie Suryono dari Komunitas Pandu Diabetes mengungkapkan, menjaga motivasi untuk patuh terhadap tata laksana medis seumur hidup, memerlukan dukungan kuat dari keluarga, komunitas, dan tenaga medis.
Guna merespons tantangan itu, Kalbe mengembangkan Diabetes Total Solution (DTS), yang mencakup program pencegahan hingga pengobatan. Program itu mengintegrasikan edukasi komunitas, melalui Nulife Goes to Office, deteksi dini via Dia Goes To Hospital, hingga kegiatan CSR DTS Sehatkan Bangsa.
Dukungan rantai pasok medis disediakan melalui ketersediaan glukometer, produk nutrisi seperti Diabetasol, obat pengontrol kolesterol, perawatan luka, hingga produk insulin glargine produksi lokal. Yang kini telah masuk dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), untuk mendukung program pemerintah.
Integrasi itu juga ditopang oleh platform digital, yang menghubungkan pasien dan tenaga kesehatan, dengan ekosistem DTS melalui situs terpadu, media sosial, dan podcast edukasi kesehatan. Pendekatan terpadu itu diharapkan mampu menekan angka komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....