Inovasi AI Karya Dokter Indonesia Berpotensi Bantu Deteksi Dini Gagal Jantung

  • 15 Jul 2026 07:36 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – RRI.CO.ID, Jakarta – Kabar baik datang dari dunia kesehatan Indonesia. Seorang dokter spesialis jantung di Primaya Hospital Tangerang mengembangkan alat berbasis kecerdasan buatan bernama NAVI-HF yang dapat membantu mendeteksi risiko perburukan pada pasien gagal jantung sebelum mereka pulang dari rumah sakit.

Data Asian-HF Registry mencatat bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dengan jumlah kasus gagal jantung terbanyak di Asia setelah Tiongkok. Angka kematian dalam satu tahun mencapai 34,1 persen, sementara sekitar 30 persen pasien harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit akibat perburukan kondisi setelah dipulangkan.

Salah satu penyebab tingginya angka rawat ulang adalah masih adanya penumpukan cairan di paru yang belum terdeteksi saat pasien dipulangkan. Kondisi ini tidak selalu dapat dikenali melalui pemeriksaan dengan stetoskop biasa, sementara pemeriksaan menggunakan Lung Ultrasound maupun pemeriksaan darah seperti NT-proBNP memerlukan peralatan khusus, biaya yang lebih tinggi, serta tenaga kesehatan yang terlatih.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Dokter Spesialis Jantung, Sub Spesialis Konsultan Kardiovaskular Intervensi, Konsultan Kedokteran Vaskular di Primaya Hospital Tangerang, Dr. dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), FIHA, mengembangkan Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure (NAVI-HF). Alat tersebut berbasis AI yang dirancang untuk membantu dokter mendeteksi tanda-tanda kongesti paru melalui analisis suara rongga dada secara lebih praktis, cepat, dan objektif. Penelitian ini merupakan bagian dari disertasi doktoralnya di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI)

Berbeda dengan stetoskop konvensional, NAVI-HF merekam suara dada dari lima titik pemeriksaan selama kurang lebih satu menit. Rekaman tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma AI untuk mengidentifikasi apakah pasien masih memiliki tanda-tanda kongesti paru yang berisiko menyebabkan perburukan gagal jantung setelah pulang dari rumah sakit.

Berdasarkan penelitian terhadap 246 pasien gagal jantung akut, NAVI-HF menunjukkan performa diagnostik yang baik, dengan akurasi 86 persen, sensitivitas 91 persen, dan spesifisitas 82 persen, dibandingkan Lung Ultrasound sebagai standar acuan. Penelitian lanjutan selama enam bulan juga menunjukkan bahwa pasien dengan hasil NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang akibat gagal jantung dibandingkan pasien dengan hasil negatif.

Ia menjelaskan, tujuan utama NAVI-HF bukan untuk menggantikan dokter, melainkan menjadi alat bantu yang mempermudah identifikasi pasien dengan risiko tinggi. Dengan demikian, penanganan diharapkan dapat dilakukan lebih dini.

"Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan gagal jantung adalah memastikan kondisi pasien benar-benar stabil sebelum pulang dari rumah sakit. NAVI-HF kami kembangkan untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien yang masih berisiko mengalami perburukan melalui alat yang sederhana, portabel, dan didukung teknologi AI,” katanya.

Ke depan, NAVI-HF memiliki potensi untuk mendukung home-based monitoring dan telemedicine. Ia pun berharap bahwa inovasi tersebut dapat mendukung deteksi lebih dini, serta membantu dokter dalam pengambilan keputusan klinis, untuk mengurangi risiko rawat ulang akibat gagal jantung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....