Menkes Bongkar Minuman Manis, Ahli Ungkap Ancaman Gagal Ginjal Mengintai
- 24 Jun 2026 14:17 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Hasil uji laboratorium menunjukkan es kopi susu 600 mililiter mengandung sekitar 54 gram gula, melampaui batas konsumsi harian.
- Ahli kesehatan masyarakat menilai Indonesia menghadapi ancaman serius akibat tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak.
- Pemerintah menyiapkan regulasi pelabelan kandungan gula, garam, dan lemak pada makanan serta minuman siap saji.
RRI.CO.ID, Jakarta – Temuan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tentang tingginya kadar gula dalam minuman cepat saji yang dijual di pinggir jalan memicu perbincangan di masyarakat. Di balik harga yang murah dan rasa yang manis, para ahli mengingatkan adanya ancaman penyakit metabolik hingga gagal ginjal yang dapat menyerang usia produktif.

Fenomena minuman manis yang menjamur di pinggir jalan sesungguhnya bukan persoalan baru. Namun, temuan yang diungkap langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membuat masyarakat kembali menyoroti kebiasaan mengonsumsi minuman cepat saji yang selama ini dianggap aman karena harganya terjangkau.
Dalam unggahan Instagram pribadinya, @bgsadikin, Budi mengaku membeli sejumlah minuman yang banyak dikonsumsi masyarakat seperti es teh, es kopi susu, dan es cendol untuk diperiksa kandungan gulanya di laboratorium. Hasilnya menunjukkan satu gelas es teh ukuran 600 mililiter mengandung sekitar 30 gram gula, sementara es kopi susu ukuran serupa mencapai 54 gram gula atau melebihi batas konsumsi harian yang dianjurkan sebesar 50 gram.
"Saya baru beli teh ini, harganya Rp5.000-an. Gulanya total ada 30 gram. Padahal batas maksimalnya sehari cuma 50 gram," kata Budi Gunadi Sadikin dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @bgsadikin pada Kamis, 18 Juni 2026.
Temuan yang lebih mengejutkan muncul pada es kopi susu yang kini banyak dijual di gerobak keliling maupun gerai minuman modern. "Ditemukan 9 gram per 100 mililiter. Jadi total 600 mililiter ini 54 gram gula, sudah lewat batas sehari kadar gula yang boleh kita minum," ujar Budi.
Budi dalam unggalan video lain, juga melalui akun Instagramnya, mengaitkan tingginya konsumsi minuman manis dengan meningkatnya kasus gagal ginjal di Indonesia. Menurut dia, pembiayaan penyakit gagal ginjal telah menguras sekitar Rp13 triliun dan meningkat hingga 400 persen dalam enam tahun terakhir. Ia mengingatkan bahwa gagal ginjal kini tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga mulai banyak ditemukan pada kalangan muda usia produktif.
Kepala Laboratorium Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Budi Wibowo, menjelaskan bahwa tingginya konsumsi gula menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya kasus diabetes melitus. Penyakit tersebut kemudian dapat berkembang menjadi komplikasi serius yang menyerang berbagai organ tubuh, termasuk ginjal.
"Yang harus diperhatikan itu gula, garam, dan lemak. Gula maksimal 50 gram per hari atau sekitar empat sendok makan. Kalau satu minuman saja sudah mendekati atau bahkan melewati batas itu, tentu menjadi perhatian serius," ucap dr. Budi Wibowo dalam wawancara bersama Radio Pro 1 RRI Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurut Budi Wibowo, masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa gula tidak hanya berasal dari minuman manis. Nasi, tepung, camilan, hingga berbagai makanan olahan juga menyumbang asupan gula harian sehingga konsumsi minuman berpemanis berlebih dapat mempercepat terjadinya gangguan metabolik.
Selain gula, Budi Wibowo mengingatkan bahaya konsumsi garam berlebihan yang banyak ditemukan pada makanan ringan berbumbu tabur. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan Laboratorium Kesehatan DKI Jakarta, sejumlah jajanan anak sekolah mengandung natrium dalam jumlah tinggi yang berpotensi meningkatkan risiko hipertensi.

Sementara itu, Ahli Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia atau UI, Hermawan Saputra, menilai temuan Menteri Kesehatan sebenarnya hanya mengulang persoalan lama yang belum terselesaikan. Menurutnya, pola hidup masyarakat yang semakin pasif atau sedentary lifestyle memperburuk dampak konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan.
"Kita sudah lama mengingatkan soal gula, garam, dan lemak. Ditambah perilaku mager, kurang olahraga, dan konsumsi makanan cepat saji, maka risiko diabetes dan hipertensi akan semakin tinggi," ujar Hermawan.
Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan hanya mengawasi pelaku usaha, melainkan membangun kesadaran masyarakat. Hermawan menilai kampanye kesehatan selama ini masih terlalu berfokus pada pengobatan, sementara edukasi mengenai pencegahan penyakit belum menjadi arus utama.
Karena itu, pemerintah didorong memperkuat promosi kesehatan sekaligus mempercepat regulasi pelabelan kandungan gula, garam, dan lemak pada makanan serta minuman siap saji. Dengan informasi yang jelas, masyarakat dapat mengetahui risiko yang mereka konsumsi setiap hari dan mengambil keputusan yang lebih sehat.
Budi Wibowo mengatakan pemerintah saat ini sedang menyiapkan regulasi yang mewajibkan pencantuman kandungan gula, garam, dan lemak pada makanan serta minuman siap saji. "Ke depan setiap makanan siap saji harus dicantumkan kandungan gula, garam, dan lemaknya. Jadi masyarakat bisa mengetahui apa yang mereka konsumsi," kata dia.
Kata Kunci / Tags
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....