Kemenkes Soroti Masalah Hipertensi di Indonesia

  • 30 Apr 2026 11:37 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Hipertensi masih menjadi salah satu penyebab utama kematian pada kelompok penyakit katastropik di Indonesia. Ketua Tim Kerja Gangguan Otak dan Kardiovaskular Direktorat Penyakit Tidak Menular (PTM), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Lusy Levina mengungkapkan, hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada tahun 2025 menunjukkan bahwa dari 34,6 juta orang yang diperiksa, sekitar 6,27 juta orang di antaranya terdeteksi menderita hipertensi.

Namun demikian, angka tersebut dinilai belum mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan. Seperti yang disampaikan oleh Lusy, dalam acara dialog “Deteksi Dini dan Pengendalian Hipertensi Dalam Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer”, yang digelar secara daring, pada Kamis 30 April 2026.

“Sisanya bisa saja mereka yang tidak ter-screening atau mereka yang mungkin ter-screening, tetapi tidak didiagnosis hipertensi, karena masih ditunda. Pasiennya masih disuruh pulang, diberikan edukasi, dan nanti dicek bulan depan. Ketika mau dicek bulan depan, belum tentu pasiennya datang, karena dia menganggap bulan lalu saja tidak ada masalah,” ujar Lusy.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa pada pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun ini, Kemenkes RI berupaya mengubah pendekatan dalam layanan hipertensi. Penegakan diagnosis akan dilakukan langsung usai deteksi dini maupun pemeriksaan pertama.

“Pada tahun 2026 ini, kita memastikan semua pasien yang ter-screening ketika CKG, langsung ditegakkan diagnosis pada saat itu, tanpa menunda untuk pemeriksaan yang kedua pada hari yang berbeda,” katanya.

Pasien yang terdiagnosis juga akan mendapatkan pelayanan yang lebih cepat, seperti terapi inisiasi, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Lusy pun berharap, langkah ini dapat meningkatkan kepatuhan pasien, sekaligus menekan risiko keterlambatan penanganan penyakit hipertensi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....