CISDI dan Harvard Perkuat Pendidikan Tenaga Kesehatan Profesional
- 05 Feb 2026 19:18 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives atau CISDI berkolaborasi dengan Universitas Harkat Negeri atau UHN dan PT Tamaris Hydro menghadirkan pengajar Harvard Medical School dalam kuliah umum di Kota Tegal, Jawa Tengah, Rabu, 4 Februari 2026. Kegiatan ini membahas penguatan tenaga kesehatan profesional melalui pendidikan yang berorientasi pada pembangunan manusia.
Pendiri dan Chief Executive Officer CISDI, Diah S. Saminarsih, mengatakan sistem kesehatan harus dibangun dengan pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai “kompas” pembangunan. “Kebijakan dan program kesehatan seharusnya mengupayakan kesetaraan dengan pendekatan afirmatif bagi kelompok rentan,” ujar Diah.

Kuliah umum kolaborasi CISDI dan Universitas Harkat Negeri menghadirkan pengajar Harvard Medical School, David B. Duong (kanan) di Kota Tegal pada Rabu, 4 Februari 2026. (Foto: CISDI)
Ia menegaskan layanan kesehatan primer, yang biasanya dikenal melalui puskesmas dan posyandu, menjadi fondasi penting karena menjadi kontak pertama masyarakat dengan layanan kesehatan. Diah menyebut layanan ini harus mudah dijangkau dari sisi lokasi, akses, biaya, dan informasi.
Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi internasional tersebut. “Sebagai universitas yang relatif baru, Universitas Harkat Negeri membutuhkan bimbingan dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Sudirman.
Ia menambahkan penguatan kelembagaan dilakukan melalui perluasan jejaring global dan pengembangan pusat keunggulan akademik. “Termasuk peluncuran UHN Center for Sustainability Studies serta dukungan dari International Board of Advisory yang beranggotakan akademisi dan praktisi internasional,” ucap Sudirman.
Dalam kuliah umum, pengajar Harvard Medical School, David B. Duong, menjelaskan pentingnya pendidikan berbasis kompetensi bagi tenaga kesehatan. “Pendidikan berbasis kompetensi menghasilkan tenaga kesehatan yang mampu praktik sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Duong.
Menurut Duong, pendekatan ini tidak hanya berfokus pada waktu kelulusan, tetapi juga hasil lulusan dan kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan pasien. Ia menilai model tersebut mampu menjawab tantangan ketimpangan layanan kesehatan dan fragmentasi disiplin ilmu.
Duong juga memaparkan lima pilar layanan kesehatan primer, yaitu diagnosis dan terapi yang tepat, waktu penanganan yang tepat, lokasi layanan yang sesuai, tenaga kesehatan kompeten, serta pengalaman pasien yang aman dan nyaman. “Sistem layanan kesehatan primer yang kuat berkorelasi dengan hasil kesehatan lebih baik dan biaya lebih rendah,” ujar Duong.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....