Epidemiolog Ingatkan Waspada Virus Nipah Tidak Menular Udara
- 27 Jan 2026 11:25 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Epidemiolog Gilbert Simanjuntak mengingatkan masyarakat untuk memahami pola penularan virus Nipah yang tidak menyebar melalui udara seperti virus pernapasan. Ia menyampaikan hal itu dalam wawancara di 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta pada Selasa, 27 Januari 2026, di tengah meningkatnya kewaspadaan sejumlah negara terhadap ancaman virus Nipah.
Gilbert menjelaskan virus Nipah memiliki tingkat kematian tinggi sehingga perlu diwaspadai meskipun penularannya tidak semudah virus pernapasan. “Penularan ini bukan seperti virus biasa yang lewat udara, jadi bukan sekadar pakai masker lalu aman,” ujar Gilbert.
Ia mengatakan penularan dapat terjadi melalui kontak dengan hewan pembawa virus, termasuk melalui air liur dan cairan tubuh hewan. Menurutnya, kewaspadaan penting terutama pada wilayah yang memiliki populasi kelelawar buah sebagai salah satu inang alami virus.
“Sekitar tujuh sampai delapan orang dari sepuluh yang terinfeksi bisa meninggal karena virus ini menyerang otak,” ucap Gilbert. Ia menambahkan, data perkembangan penyakit masih terus diamati oleh para ahli kesehatan.
Sejumlah negara telah meningkatkan langkah pencegahan di pintu masuk wilayahnya. Berdasarkan laporan kantor berita Antara, otoritas penerbangan sipil Thailand mulai menerapkan skrining kesehatan menyeluruh bagi penerbangan dari Benggala Barat, India, sejak Senin, 26 Januari 2026.
Protokol tersebut mencakup pemeriksaan suhu tubuh, pengisian formulir pernyataan kesehatan, serta pemeriksaan kesehatan awal sebelum keberangkatan. Kebijakan itu diterapkan sebagai langkah antisipasi agar virus Nipah tidak masuk ke wilayah Thailand.
Gilbert menilai Indonesia juga perlu memperkuat deteksi dini di bandara melalui pemantauan suhu tubuh penumpang dari negara terdampak. “Virus biasanya menimbulkan demam, jadi deteksi suhu di bandara penting sebagai langkah pencegahan awal,” kata Gilbert.
Ia juga menyarankan pemerintah daerah mengidentifikasi wilayah dengan populasi kelelawar tinggi serta menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat diimbau tidak berkontak langsung dengan hewan liar dan menghindari konsumsi hewan berisiko selama masa kewaspadaan berlangsung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....