Puluhan Pimpinan Kampus Ungkap Kunci Sukses Kuliah Sambil Kerja

  • 13 Agt 2026 18:03 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Lulusan SMK kini memiliki tiga pilihan utama setelah lulus: bekerja untuk mencari penghasilan, melanjutkan pendidikan tinggi secara mandiri, atau memulai usaha sendiri melalui prinsip BMW.
  • Sekretaris MKKS SMK Swasta Jawa Timur, Indra Wahyu Suriswanto, menekankan bahwa arah pilihan masa depan anak SMK semakin realistis dan adaptif terhadap dinamika pasar kerja.

RRI.CO.ID, Jakarta - Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kini tidak lagi dibatasi oleh satu pilihan setelah lulus. Melalui penguatan prinsip "BMW" yakni Bekerja, Melanjutkan, dan Berwirausaha, para siswa memiliki pilihan dapat bekerja mencari penghasilan sendiri, sekaligus melanjutkan pendidikan tinggi secara mandiri.

Hal itu ditegaskan oleh Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Swasta Jawa Timur, Indra Wahyu Suriswanto, dalam forum diskusi Podcast SEVIMA. Ia menyampaikan arah pilihan masa depan anak SMK saat ini, semakin realistis dan adaptif.

"Prinsip dasar SMK itu adalah BMW, yaitu Bekerja, Melanjutkan ke perguruan tinggi, dan Berwirausaha. Saat ini semangat anak-anak untuk kuliah semakin tinggi, tetapi mereka memilih bekerja lebih dulu, agar bisa membiayai kuliahnya secara mandiri," ujar Indra, yang juga menjabat sebagai Kepala SMK Krian 2 Sidoarjo, Kamis, 13 Agustus 2026.

Menanggapi tren kuliah sambil bekerja, Indra menjelaskan ada tiga alasan utama, yang mendorong lulusan SMK memilih jalan untuk bekerja, sambil menuntut ilmu di perguruan tinggi. Alasan pertama adalah keinginan untuk mandiri secara finansial.

Mengingat banyak siswa SMK berasal dari keluarga sederhana, bekerja menjadi pilihan paling tepat untuk menghasilkan uang sendiri. Sekaligus membiayai uang kuliah tanpa membebani orang tua.

Alasan kedua adalah tuntutan dunia kerja, yang kini lebih menghargai karyawan dengan semangat belajar sepanjang hayat (long-life learning). Lulusan SMK sadar, untuk dapat naik jabatan di perusahaan, mereka perlu terus meningkatkan keahlian (upskilling) lewat bangku kuliah.

"Alasan ketiga adalah makin banyaknya kampus yang fleksibel. Hadirnya program kelas malam dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sangat membantu anak SMK agar tetap bisa kuliah, tanpa perlu mengorbankan jam kerja mereka," kata Indra.

Menanggapi semangat kemandirian siswa SMK, perguruan tinggi terus beradaptasi dengan merancang sistem perkuliahan yang ramah dunia kerja. Wakil Direktur I Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), Adetiya Prananda Putra, menyatakan pendidikan vokasi wajib membangun kemitraan erat dengan industri, melalui prinsip plug and play.

Melalui konsep plug and play, pihak industri dilibatkan secara penuh, dalam proses pendidikan dari awal hingga akhir. Keterlibatan itu dimulai dari penentuan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), program praktisi mengajar, teaching factory, project-based learning, hingga pelaksanaan magang kerja dan sertifikasi kompetensi.

"Di politeknik, kolaborasi dengan industri adalah sebuah keniscayaan. Hasilnya, sekitar 75 persen lulusan kami mampu mendapatkan pekerjaan, paling lambat tiga bulan setelah lulus, bahkan tidak sedikit yang sudah diterima kerja sebelum resmi wisuda. Interaksi langsung dengan industri ini sangat efektif membentuk etos kerja, ketahanan (resilience), dan sikap (attitude) mahasiswa," kata Adetiya.

Penyesuaian kurikulum dan penguatan karakter juga diterapkan di kampus kesehatan. Wakil Ketua III STIKES Satria Bhakti Nganjuk, Henny Purwandari, menyampaikan kampus kesehatan dituntut melahirkan lulusan, yang tidak hanya kompeten secara akademik. Tetapi juga memiliki karakter kuat untuk melayani masyarakat.

Sementara itu, Ketua STIKES Bakti Al-Qodiri Jember, Dr. Fika Indah Prasetya, S.Kep., Ns., M.Kep., mengusung tiga pilar utama dalam pengelolaan mahasiswa. Yakni wawasan global melalui jejaring internasional (seperti Filipina, Jepang, Malaysia, dan Kuwait), penguatan karakter dan akhlak berbasis lingkungan pesantren, serta biaya pendidikan yang terjangkau dan inklusif. "Dengan biaya yang terjangkau dan mutu yang terjamin, anak-anak lulusan SMA maupun SMK tetap bisa melanjutkan perkuliahan di bidang kesehatan, tanpa terkendala biaya," ucap Vika.

Hal serupa juga disampaikan oleh Wakil Rektor I Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember, Dr. Ismul Mauludin Al-Habib. Diskusi itu turut dihadiri Associate Prof. Dr. Arasy Alimudin, S.E., M.M., Rektor Universitas Narotama Surabaya; Dr. Benny Prasetiya, M.Pd.I., Rektor Institut Ahmad Dahlan Probolinggo. Hadir pula Prof. Dr. Luthfi, S.E., M.Fin., Rektor Universitas Hayam Wuruk Perbanas; Dr. Setiadi, S.Kep., Ns., M.Kep., Ketua STIKES Hang Tuah Surabaya, dan Ns. Alfunnafi Fahrul Rizzal, S.Kep., Ners, Sp.Kep.J, M.Kep., Wakil Rektor 3 ITSK Soepraoen Kesdam V Brawijaya Malang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....