Wamendiktisaintek dan SEVIMA Bagikan 3 Kunci Digitalisasi Perguruan Tinggi

  • 31 Jul 2026 16:57 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Perguruan tinggi tidak boleh lagi berjalan sendiri dan harus memperkuat kolaborasi untuk mengikuti perkembangan zaman yang pesat.
  • Kolaborasi antar kampus menjadi kunci utama agar perguruan tinggi mampu menjadi motor penggerak pembangunan daerah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Perguruan tinggi tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri, di tengah pesatnya tuntutan zaman. Mengikis ego sektoral dan memperkuat kolaborasi menjadi kunci utama, agar kampus mampu menjadi motor penggerak pembangunan daerah, serta mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi.

Hal itu ditegaskan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Kemdiktisaintek) Prof Fauzan, dalam Rapat Koordinasi Pimpinan (Rakorpim) Perguruan Tinggi 2026 LLDikti Wilayah XVII (Riau dan Kepulauan Riau). Rapat itu digelar di Hotel Grand Central Pekanbaru.

"Konsorsium itu sebenarnya adalah membangun satu ekosistem, untuk memajukan pendidikan tinggi. Sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan daerah," ujar Prof Fauzan, di hadapan ratusan pimpinan perguruan tinggi swasta se-Riau dan Kepulauan Riau, Jumat, 31 Juli 2026.

Menjawab tantangan penguatan ekosistem tersebut, Aditya Rhesa, Pakar Digitalisasi Kampus dari SEVIMA, memaparkan bagaimana industri teknologi hadir mendampingi perguruan tinggi, melalui pilar digitalisasi. Mengangkat tema “Perguruan Tinggi Sebagai Motor Penggerak Pembangunan”, SEVIMA membagikan tiga tips utama bagi kampus, dalam melakukan transformasi digital yang berdampak.

Aditya menyampaikan, tips pertama yang sangat krusial adalah otomatisasi kepatuhan data PDDikti, dan penjaminan mutu. Menurutnya, langkah itu penting untuk mengeliminasi beban operasional manual, dalam pelaporan data akademik, sekaligus memangkas risiko sanksi penutupan program studi, akibat keterlambatan pelaporan.

Ia mengungkapkan, melalui SEVIMA Platform, kampus tak perlu lagi dibebani proses pengerjaan entri data ganda (double entry). Sistem itu mampu mengintegrasikan database lokal kampus, secara langsung ke PDDikti, SISTER, hingga SAPTO-BANPT dengan standar keamanan ISO 27001.

"Rekam jejak menunjukkan 9 dari 10 kampus mitra SEVIMA, sukses mencapai pelaporan 100 persen tepat waktu. Sehingga siap menghadapi evaluasi akreditasi kapan saja," kata Aditya.

Selanjutnya, Aditya menekankan tips kedua, yaitu percepatan implementasi Kurikulum Outcome-Based Education (OBE), berbasis AI dan link-match industri. Ia menyebutkan, selama ini pengelolaan kurikulum berbasis OBE, kerap kali terkendala oleh rumitnya penyusunan rubrik penilaian, dan pengukuran Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).

Aditya menjelaskan, lewat SEVIMA Platform, perhitungan CPL dapat dilakukan secara otomatis dan terukur. Integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) di dalamnya, membantu memberikan rekomendasi presisi rubrik penilaian dosen, serta menyajikan dashboard analitik pimpinan secara real-time.

"Dalam SEVIMA Platform ada juga modul Karirlink. Yang turut memperkuat fungsi tracer study otomatis, untuk menyalurkan lulusan ke mitra industri nasional," katanya.

Ketiga yaitu penyediaan fleksibilitas pembelajaran hybrid, dan eksekusi Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Ia menilai moda pembelajaran yang adaptif, sangat krusial untuk memfasilitasi mahasiswa pekerja, tanpa mengorbankan mutu akademik.

Menurut Aditya, melalui modul SEVIMA EdLink, kampus dapat menerapkan sistem adaptive learning, yang dilengkapi fitur smart notification. Fitur itu bekerja memberikan pengingat jadwal dan tugas secara otomatis, guna menekan angka drop-out. Ia menambahkan, interaksi diskusi yang intuitif layaknya media sosial pada modul itu, juga terbukti efektif menjaga motivasi, dan keterlibatan mahasiswa selama perkuliahan daring.

Aditya menegaskan, seluruh langkah digitalisasi itu dirancang, agar perguruan tinggi secara otomatis patuh terhadap regulasi pemerintah terbaru, seperti Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025, dan Nomor 10 Tahun 2026. Aturan itu mencakup aspek keamanan data, transparansi penerimaan mahasiswa baru, hingga efektivitas pemantauan kebijakan akademik.

Dengan dukungan layanan yang telah menjangkau lebih dari 1.300 perguruan tinggi, dan 3,5 juta pengguna aktif di seluruh Indonesia, Aditya berharap transformasi tata kelola berbasis digital itu, mampu mengokohkan perguruan tinggi di wilayah Riau dan Kepulauan Riau, sebagai garda terdepan pembangunan daerah yang unggul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....