Ini Strategi Rektor UNU Cirebon Kejar Predikat Kampus Unggul
- 15 Jul 2026 15:02 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon, tengah bersiap melakukan lompatan besar. Memasuki usia ke-15 pada September 2026 mendatang, kampus yang berdiri sejak tahun 2011 itu, menargetkan transformasi menyeluruh, demi meraih predikat sebagai kampus unggul dan kompetitif, dalam waktu lima tahun ke depan. Rektor UNU Cirebon, Prof. Dr. H. Farihin Nur, menegaskan kunci utama dari akselerasi itu, bertumpu pada optimalisasi dosen muda sebagai motor penggerak inovasi akademis.
Profesor Farihin membeberkan blueprint mengenai pengembangan universitas yang dipimpinnya. Menariknya, alih-alih melihat usia muda institusi sebagai kendala kompetisi, ia justru memetakan potensi besar dari struktur demografi internal kampus yang sangat dinamis.
Saat ini, total sekitar 140 dosen tetap yang aktif mengajar di UNU Cirebon. Sebanyak 60 hingga 70 persen di antaranya, merupakan tenaga pendidik produktif berumur di bawah 35 tahun.
“Kami ingin lima tahun ke depan, setelah proses akreditasi berjalan dengan baik, mudah-mudahan UNU Cirebon sudah meraih predikat unggul. Dalam pikiran saya, untuk menjadikan kampus itu unggul, kita harus menyiapkan SDM yang unggul dulu. Karena itu, saya mendorong dosen-dosen muda kami,” ujar Profesor Farihin dalam Webinar SEVIMA, Senin, 13 Juli 2026.
Menurut Farihin, dominasi kelompok usia muda di jajaran sivitas akademika, merupakan modal berharga dalam menghadapi era disrupsi teknologi, ketidakpastian global, serta pergeseran tren industri. Karakteristik dosen muda yang adaptif, kreatif, visioner, dan melek digital, diyakini mampu membawa atmosfer pembelajaran abad ke-21 yang lebih segar, relevan, serta interaktif bagi para mahasiswa, yang mayoritasnya merupakan generasi Z dan generasi alfa.
Kendati memiliki keunggulan dari segi adaptabilitas dan fleksibilitas, Farihin menyadari kualitas formal akademis tidak boleh dikesampingkan. Guna mengejar target milestone institusi serta akreditasi Unggul, peningkatan kualifikasi dosen dari jenjang Magister (S2) ke tingkat Doktor (S3) menjadi agenda prioritas. Langkah konkret berskala nasional pun, langsung diambil oleh manajemen kampus di bawah kepemimpinannya.
“Terutama para dosennya selaku ujung tombak pengajaran. Oleh sebab itu, pada tahun ajaran ini saja, kurang lebih ada 10 dosen muda yang sudah bergelar magister, kami dorong dan fasilitasi secara penuh untuk melanjutkan studi S3 jalur doktoral. Mereka berhasil menembus pendanaan dari beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), untuk kuliah di berbagai universitas negeri ternama di Indonesia,” kata Farihin.
Strategi investasi SDM jangka panjang itu, diproyeksikan akan mengubah peta kekuatan akademis di wilayah Cirebon, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Melalui penyediaan akses terhadap beasiswa seperti LPDP, UNU Cirebon memastikan para dosen mudanya, mendapatkan eksposur riset berskala global dan pendalaman keilmuan terbaik, tanpa membebani sektor finansial internal institusi secara berlebihan.
Selain fokus pada peningkatan kapasitas intelektual SDM, strategi kedua yang diusung oleh Farihin untuk merevolusi UNU Cirebon, adalah perombakan total ekosistem tata kelola kampus melalui digitalisasi. Rektor yang juga berlatar belakang sebagai guru besar, di bidang manajemen pendidikan itu, menyatakan operasional perguruan tinggi swasta modern, wajib meniadakan sistem birokrasi manual yang lambat.
Meskipun saat ini beberapa modul teknologi dasar, telah berhasil dikembangkan secara mandiri oleh dosen-dosen internal, yang berlatar belakang ilmu komputer (IT), Rektor tetap menegaskan pentingnya berkolaborasi dengan pihak eksternal yang profesional, berpengalaman, dan bonafide. Demi menjamin keberlanjutan (sustainability), dan keamanan siber sistem informasi kampus dalam jangka panjang.
Transformasi akademis yang masif dan digitalisasi yang canggih itu, dipastikan tidak akan melunturkan nilai-nilai luhur, dan identitas dasar UNU Cirebon, sebagai lembaga pendidikan tinggi di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Di tengah derasnya arus modernisasi dan keterbukaan informasi, internalisasi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), justru diperkuat sebagai benteng moral utama mahasiswa.
Profesor Farihin menjabarkan, ada empat pilar utama doktrin keaswajaan yang wajib dipahami, dihayati, dan diimplementasikan oleh seluruh civitas akademika dalam kehidupan bermasyarakat. Pilar tersebut meliputi tawassuth (sikap moderat), tawazun (pola pikir seimbang), tasamuh (toleransi tinggi terhadap perbedaan), dan i'tidal (konsisten menegakkan keadilan).
Proses penanaman karakter mulia itu bahkan sudah dimulai sejak hari pertama mahasiswa baru diterima. Melalui program orientasi intensif khusus berkonsep 'Base Camp'.
“Tantangan terbesar di era disrupsi dan ketidakpastian global ini, bukanlah pada perubahan perangkat teknologinya, melainkan bagaimana kesiapan mental generasi muda kita, agar tahan banting menghadapi dinamika zaman. Kita wajib membekali mereka dengan keyakinan akidah yang kokoh dan clear. Dengan begitu, mereka tidak hanya sekadar bertahan hidup dan survive, tetapi juga mampu mewarnai, memimpin, serta membawa dampak positif bagi kemaslahatan masyarakat luas,” ucap Prof. Farihin.
Menutup perbincangan, Farihin mengutip pesan historis dari Imam Syafi'i, mengenai dua pilar utama penentu keunggulan suatu bangsa dan generasi. Yakni penguasaan terhadap ilmu pengetahuan (kompetensi), serta kekuatan integritas moral (akhlak).
Sinergi kuat antara kecerdasan intelektual, kemandirian digital berbasis platform seperti SEVIMA, serta keluhuran etika inilah, yang diyakini menjadi modal utama bagi UNU Cirebon, dalam melahirkan Generasi Emas Nahdliyin. Yang siap bersanding sejajar dengan lulusan perguruan tinggi papan atas, di kancah nasional maupun global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....