Ekosistem Pembelajaran Terintegrasi Binus @Alam Sutera Jawab Tantangan Industri

  • 22 Jun 2026 20:15 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Generasi muda akan menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis dan menuntut keterampilan yang lebih adaptif, kreatif, serta relevan dengan kebutuhan industri. Di era Artificial Intelligence atau AI, perubahan dunia kerja juga memengaruhi cara mahasiswa belajar, mencari informasi, mengembangkan ide, hingga mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.

Menjawab kebutuhan tersebut, Binus University menghadirkan Digital Transformation & AI Experience Ecosystem, sebuah pendekatan pembelajaran yang tidak sekadar mengintegrasikan AI dalam keseharian perkuliahan, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan memahami penggunaan teknologi secara tepat dan bertanggung jawab. Melalui ekosistem ini, mahasiswa didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, dan etis dalam memanfaatkan AI.

Pendekatan ini menjadi bagian dari komitmen Binus dalam mempersiapkan generasi muda yang adaptif terhadap perubahan, relevan dengan kebutuhan industri,serta siap menghadapi masa depan karier yang semakin dinamis.

Prof. Dr. Lim Sanny, S.T., M.M., Direktur Kampus BINUS @Alam Sutera menyampaikan komitmennya menghadirkan ekosistem pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pengalaman industri, pemanfaatan teknologi, jejaring profesional, dan kesiapan karier sejak masa studi.

Menurutnya, perubahan dunia kerja menuntut perguruan tinggi untuk semakin adaptif dalam menyiapkan mahasiswa.

"Saat ini, dunia kerja berubah dengan sangat cepat. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali teori, tetapi juga perlu mendapatkan pengalaman nyata, kemampuan adaptasi, kreativitas, pemahaman bisnis, serta literasi teknologi. Karena itu, pendidikan tinggi harus mampu menjadi jembatan antara proses belajar di kampus dengan kebutuhan industri,” ujar Prof.Lim dalam keterangan resminya, Senin, 22 Juni 2026.

Melalui pembelajaran berbasis pengalaman, kolaborasi dengan industri, Enrichment Program, serta dukungan ekosistem Binusian,mahasiswa didorong untuk mulai membangun kompetensi dan portofolio sejak masa studi.

“Melalui Enrichment Program, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung di dunia industri sebelum lulus. Dengan begitu, mereka tidak hanya siap menyelesaikan pendidikan, tetapi juga lebih siap memahami dinamika dunia kerja dan membangun arah kariernya,” katanya.

Prof. Lim juga menekankan bahwa pemanfaatan AI menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan. Melalui Digital Transformation & AI Experience Ecosystem, Binus menghadirkan pengalaman belajar yang semakin relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus membekali mahasiswa dengan pemahaman teknologi yang tepat dan bertanggung jawab.

“AI sudah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan modern. Dalam pembelajaran, mahasiswa didorong untuk tidak sekadar menggunakan AI dalam keseharian perkuliahan, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara tepat, kritis, etis, dan bertanggung jawab. Hal ini penting agar mereka siap menghadapi dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi,” ucapnya.

Selain kesiapan karier, faktor finansial juga menjadi salah satu pertimbangan penting bagi orang tua dalam menentukan pendidikan tinggi anak. Prof. Lim menyampaikan bahwa pendidikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang yang manfaatnya mulai dirasakan sejak masa kuliah, bukan hanya setelah lulus.

“Kami memahami bahwa orang tua tidak hanya mempertimbangkan kualitas akademik, tetapi juga bagaimana pendidikan tersebut dapat memberikan nilai bagi masa depan anak. Karena itu, kami juga menghadirkan berbagai dukungan, termasuk beasiswa, pengalaman industri, serta ekosistem pembelajaran yang membantu mahasiswa berkembang lebih optimal,” ujar Prof. Lim.

Sejalan dengan hal tersebut, Marjuky CH, S.Kom., M.M., orang tua mahasiswa jurusan Food Technology, mengungkapkan bahwa keputusan memilih kampus bukanlah hal yang sederhana bagi orang tua.

“Sebagai orang tua, tentu kami ingin anak mendapatkan pendidikan yang baik. Tetapi lebih dari itu, kami juga ingin memastikan bahwa pilihan kampus tersebut dapat membantu anak memiliki arah yang jelas untuk masa depannya. Kekhawatiran seperti biaya pendidikan, pilihan jurusan, dan prospek karier tentu menjadi pertimbangan penting,” kata Marjuky yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Meta Life Indonesia, Group PT Pharos Indonesia.

Ia menambahkan bahwa salah satu hal yang membuatnya lebih yakin adalah adanya pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang melalui pengalaman, eksplorasi, dan kesiapan menghadapi dunia kerja.

“Yang membuat kami merasa lebih secure adalah ketika melihat anak tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga berada dalam lingkungan yang mendorongnya untuk berkembang. Ada pengalaman, ada arahan, dan ada ekosistem yang mendukung. Dari situ kami merasa bahwa keputusan memilih BINUS bukan hanya soal kuliah, tetapi juga bagian dari investasi untuk masa depan anak,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....