Dosen PPM Manajemen Gali Ilmu ke Empat Negara
- 14 Jun 2026 11:10 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Peningkatan kompetensi menjadi sebuah kewajiban, yang harus dilakukan oleh seorang pendidik. Tidak hanya melakukan Tridharma dalam bentuk mengajar, meneliti, dan pengabdian, tetapi seorang dosen juga harus giat meningkatkan kompetensi yang dimiliki.
Hal itu disampaikan oleh Noveri Maulana, associate professor dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM, di sela acara Asia Tourism Forum 2026, di Mongolia. Menurutnya, tantangan menjadi dosen bukan hanya sekadar komitmen pelaksanaan Tridharma, tetapi juga harus konsisten untuk upgrade diri, agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Ilmu itu senantiasa berkembang. Sejatinya, seorang dosen harus bisa mengikuti perkembangan itu. Kalau tidak, tentu akan sangat menantang sekali nantinya, berhadapan dengan mahasiswa di kelas, atau berinteraksi dengan pelaku industri,” ujarnya.
Walau Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menunda penetapan kewajiban dosen, untuk mengikuti pelatihan minimal 20 jam pelajaran setahun, menurut Noveri, hal itu justru sebenarnya baik untuk dilanjutkan. Namun, terkadang urusan administratif dan birokrasi membuat niat baik itu, menjadi tantangan di lapangan.
“Saya pribadi sepakat dengan kewajiban dosen, agar upgrade diri minimal 20 jam pelajaran per tahun. Namun, kadang yang membuat berat adalah persoalan bukti kinerjanya. Kumpulin sertifikatnya, harus ada surat tugas, harus ada bukti ini, buat laporan dan semacamnya,” katanya.
“Kadang karena administratifnya yang menumpuk, jadinya niat peningkatan kompetensi malah tak maksimal. Jauh panggang dari api,” tambahnya.
Noveri juga menyatakan, peningkatan kompetensi dosen, seharusnya bisa dilihat dari berbagai bentuk kegiatan. Misalnya, melalui aktivitas konferensi akademik, forum internasional, talkshow, workshop, pameran, dan banyak bentuk lainnya. Bahkan, untuk mewujudkan peningkatan kompetensi itu, saat ini Noveri mengikuti forum dan seminar di berbagai negara.
“Alhamdulillah, selama dua minggu ini saya mendapat kesempatan untuk upgrade ilmu, ke empat kegiatan berbeda di empat negara. Minggu lalu saya menghadiri pameran dan seminar tentang start-up AI bertajuk Echelon di Singapura,” katanya.
“Kemudian mengikuti konferensi behavioral economics di Tsinghua University, Beijing. Saat ini saya menghadiri ATF Conference di Mongolia. Dan insyaallah Selasa besok akan lanjut mengikuti Seoul AI Conference di Korea,” tambahnya.
Noveri mengaku, dari keempat kegiatan tersebut, sebagian besar dia hadir sebagai peserta, yang ikut terlibat aktif berdiskusi, dan berjejaring dengan para pakar di bidangnya. Bahkan, untuk kegiatan Asian Tourism Forum di Mongolia, Noveri juga diundang sebagai salah satu presenter, untuk memaparkan hasil riset yang telah dia lakukan.
“Dari empat kegiatan itu, salah satunya saya menjadi presenter, untuk memaparkan hasil riset. Sedangkan kegiatan lainnya, saya jadi peserta untuk belajar, dan menggali ilmu dari para pakar dan narasumber, yang dihadirkan di sana. Walaupun dosen, kadang kita harus siap juga jadi mahasiswa, agar bisa mempelajari hal baru, dan mendapatkan pengetahuan baru," ucap Noveri.
Ia pun mengajak para dosen dan pendidik lainnya, agar terus aktif mengembangkan kompetensi. Sebab, lanjut dia, dosen harus aktif di berbagai forum, entah itu forum ilmiah maupun forum praktisi.
Justru dengan kehadiran dosen pada berbagai forum tersebut, implementasi teori di ruang kelas menjadi semakin relevan, dengan praktik lapangan. Hal itu akan membuat hubungan akademisi dan praktisi, semakin berkesinambungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....