Mahasiswa IPB Ciptakan Alat Pengolah Sampah Ramah Lingkungan
- 07 Jan 2026 18:35 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Insinerator minim asap karya mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University ini hadir sebagai solusi pengelolaan sampah ramah lingkungan di desa yang selama ini masih banyak dilakukan melalui pembakaran terbuka. Alat sederhana karya para mahasiswa ini diklaim mampu mengurangi asap pekat, menekan timbunan sampah, serta lebih ramah lingkungan dan mudah diterapkan oleh masyarakat.
"Masalah sampah desa ini bukan hal baru. Minimnya akses ke tempat pembuangan akhir (TPA) membuat sebagian warga memilih membakar sampah di halaman rumah. Cara ini dianggap praktis, tetapi berdampak buruk terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat," kata kata Indra, salah satu mahasiswa Departemen Kimia IPB University, dikutip dari Press Releas IPB University, Rabu, (07/01/26).
Dari latar belakang itulah maka para mahasiswa KKNT Inovasi IPB University di Desa Cicadas, Kabupaten Bogor tergerak untuk merancang alat insinerator minim asap sebagai teknologi tepat guna.
“Kami melihat ada masalah sampah di Desa Cicadas ini, seperti banyak tumpukan sampah liar, bahkan ada yang membuang sampah ke sungai,” tegas Indra.
Akma Naufal Rabbani yang juga anggota tim mahasiswa ikut menambahkan, bahwa persoalan sampah di desa tidak hanya berkaitan dengan perilaku masyarakat, tetapi juga keterbatasan sarana.
“Masalah yang paling besar adalah minimnya infrastruktur sampah. Hampir di sebagian RT atau RW tidak memiliki infrastruktur maupun sistem pengelolaan sampah,” ujarnya.
Akma juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam membayar iuran sampah. Kondisi tersebut menyebabkan pengangkutan sampah secara komunal sering terhenti. “Kadang bisa sampai mandek, bahkan sampai tiga bulan,” sesalnya.
Menurutnya, keberadaan insinerator minim asap mampu meminimalkan kebutuhan pengangkutan sampah. Hasil uji coba selama hampir satu bulan, tidak terjadi penambahan volume sampah yang signifikan.
“Pengeluaran warga untuk pengangkutan sampah yang sebelumnya sekitar satu juta rupiah per sekali angkut dapat ditekan, cukup dengan biaya operasional petugas kebersihan,” jelasnya.
Secara teknis, insinerator ini dibuat dari bata hebel yang mudah diperoleh. Desainnya memiliki ruang bakar memanjang dengan pengaturan aliran udara sehingga api menyala lebih stabil dan asap pembakaran berkurang secara signifikan. Hal ini memungkinkan masyarakat membakar sampah tanpa mencemari kualitas udara sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....