Legislator DKI Ade Suherman Soroti Rencana Proyek AI Data Center Jatiluhur

  • 03 Okt 2026 17:37 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Rencana pengembangan pusat data, berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI Data Center), milik BDx di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, mendapat perhatian Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS, Ade Suherman
  • Ade Suherman menilai kebutuhan air proyek itu, yang pada kapasitas pengembangan maksimal disebut dapat mencapai sekitar 384 liter per detik, atau 33 juta liter per hari, harus menjadi perhatian serius Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Rencana pengembangan pusat data, berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI Data Center), milik BDx di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, mendapat perhatian Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS, Ade Suherman. Ia menilai kebutuhan air proyek itu, yang pada kapasitas pengembangan maksimal disebut dapat mencapai sekitar 384 liter per detik, atau 33 juta liter per hari, harus menjadi perhatian serius Jakarta.

Terlebih, Waduk Jatiluhur merupakan salah satu sumber air baku utama, bagi sistem penyediaan air minum Jakarta. Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun itu, saat ini juga menjadi perhatian Pemprov Jawa Barat, terkait aspek perizinan dan kebutuhan air.

Pada tahap awal, kebutuhan air disebut sekitar 6.000 meter kubik per hari, dan akan meningkat seiring pengembangan fasilitas. “Ini harus menjadi warning bagi Jakarta,” ujar Ade dalam keterangan tertulis, Sabtu, 3 Oktober 2026.

“Bukan berarti kita menolak investasi data center, tetapi kebutuhan air dalam jumlah besar, harus dihitung dalam perspektif ketahanan air regional. Jakarta sangat bergantung pada Jatiluhur, sehingga setiap perubahan pemanfaatan air di kawasan tersebut, harus menjadi perhatian PAM Jaya,” tambah Ade.

Ade menyoroti tingginya ketergantungan Jakarta terhadap Waduk Jatiluhur. Data PAM Jaya menunjukkan, Jatiluhur merupakan sumber air baku terbesar bagi Jakarta, dengan kapasitas sumber yang tercatat sekitar 18.000 liter per detik.

Pada akhir Agustus 2026, Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin juga menyebut, Jakarta sangat mengandalkan Jatiluhur. Sementara hasil pemantauan bersama Perum Jasa Tirta II, menunjukkan kondisi Waduk Jatiluhur masih berada dalam batas aman.

PAM Jaya dan PJT II memperkirakan kebutuhan air untuk PDAM, irigasi, industri, dan kebutuhan lainnya masih dapat terpenuhi hingga akhir 2026. Menurut Ade, kondisi itu justru harus menjadi momentum, untuk memperkuat pengawasan terhadap neraca air dalam jangka panjang.

“Kalau hari ini kondisinya masih aman, bukan berarti kita boleh lengah. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana dengan lima, sepuluh, atau dua puluh tahun ke depan ketika kebutuhan industri, data center, pertanian, dan kebutuhan rumah tangga sama-sama meningkat,” katanya.

Ade meminta PAM Jaya tidak hanya memantau air yang sudah masuk ke Jakarta. Tetapi juga aktif mengawal keberlanjutan sumber air baku di wilayah hulu, bersama Perum Jasa Tirta II dan pemerintah daerah terkait.

Ade juga mengingatkan PAM Jaya, agar agenda pengembangan korporasi, tidak menggeser perhatian terhadap tugas utamanya, sebagai BUMD penyedia layanan air minum Jakarta. Menurutnya, penguatan korporasi tetap penting, tetapi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat pelayanan publik, bukan sebaliknya.

“PAM Jaya boleh berkembang menjadi korporasi yang kuat. Tetapi core business-nya tetap pelayanan air minum. Jangan sampai energi dan perhatian korporasi terlalu terserap pada ekspansi bisnis, anak perusahaan atau agenda korporasi lainnya. Sementara ketahanan sumber air baku dan kualitas layanan kepada masyarakat, belum sepenuhnya selesai,” kata Ade.

Ia menilai indikator utama keberhasilan PAM Jaya, tetap harus dikaitkan dengan kualitas, kuantitas, kontinuitas. Dan keterjangkauan layanan air bagi masyarakat Jakarta.

Ade menekankan, persoalan kebutuhan air data center, tidak semata-mata merupakan persoalan satu proyek. Menurutnya, kasus Jatiluhur harus menjadi momentum bagi pemerintah, untuk menyusun tata kelola pemanfaatan air yang lebih komprehensif.

“Air adalah kebutuhan dasar. Karena itu, ketika ada industri dengan kebutuhan air yang sangat besar, pemerintah harus memastikan terlebih dahulu neraca airnya, sumber airnya dari mana, siapa yang mendapatkan alokasi, dan bagaimana mitigasinya ketika terjadi kemarau atau perubahan iklim,” katanya.

Ia juga meminta setiap rencana pemanfaatan air dalam skala besar, memperhitungkan kebutuhan masyarakat, pertanian, industri. Serta keberlanjutan ekosistem secara bersamaan.

“Jangan sampai kita baru bereaksi ketika terjadi krisis. Ketahanan air harus dibangun dari sekarang, termasuk dengan diversifikasi sumber air baku, dan penguatan sistem mitigasi,” katanya.

Ade juga meminta PAM Jaya bersama Pemprov DKI dan pihak terkait, menyusun peta ketahanan air Jakarta dalam jangka panjang. Peta itu, menurutnya, penting untuk melihat kebutuhan air Jakarta, sekaligus potensi tekanan terhadap sumber air baku, dari berbagai aktivitas di wilayah hulu.

Ia juga mendorong keterbukaan informasi mengenai kapasitas sumber air, kebutuhan Jakarta, cadangan yang tersedia, serta skenario menghadapi musim kemarau ekstrem. Ade menegaskan, investasi dan perkembangan teknologi tetap penting bagi pertumbuhan ekonomi. Namun, pembangunan itu harus berjalan seiring dengan perlindungan, terhadap sumber daya air dan kepentingan masyarakat.

“Investasi data center silakan berkembang, teknologi AI juga tidak bisa kita hindari. Tetapi pembangunan ekonomi tidak boleh membuat kita mengabaikan kebutuhan dasar. Jakarta harus memastikan air untuk warganya aman terlebih dahulu, dan sumber air bakunya terlindungi untuk jangka panjang,” ucap Ade.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....