Fraksi PDIP DKI Jadikan RW 014 Pondok Kelapa Model Zero Waste
- 29 Sep 2026 17:20 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- RW 014 Kelurahan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, tengah didorong menjadi lingkungan percontohan Jakarta Zero Waste
- Fraksi dan DPD PDIP DKI Jakarta melakukan kunjungan kerja lapangan, di RW 014 Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa, 29 September 2026
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, mendorong kader partainya mengambil peran, dalam gerakan yang berdampak langsung bagi lingkungan dan masyarakat. Semangat itu kini diterjemahkan jajaran PDIP DKI Jakarta, melalui gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari tingkat lingkungan.
Salah satunya dilakukan di RW 014 Kelurahan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, yang tengah didorong menjadi lingkungan percontohan Jakarta Zero Waste. Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Pantas Nainggolan, mengatakan langkah itu merupakan bentuk dukungan partai, terhadap upaya membangun kebiasaan baru masyarakat dalam mengelola sampah.
Pantas menyampaikan hal itu, saat kunjungan kerja lapangan Fraksi dan DPD PDIP DKI Jakarta, di RW 014 Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa, 29 September 2026. “Ya, ini juga menjadi salah satu bentuk keprihatinan dari Ketua Umum kami, Ibu Megawati Soekarnoputri, untuk mempelopori gerakan-gerakan yang baik, yang bermanfaat khususnya untuk masa depan negara kita, khususnya di Pondok Kelapa ini,” ujar Pantas.
“Dengan begitu, kami bisa merubah budaya-budaya yang tadi kurang bagus. Kita bisa menciptakan gerakan budaya baru, menuju Indonesia yang jauh lebih baik daripada hari ini,” tambahnya.
Pantas mengatakan, keterlibatan partainya dalam gerakan itu merupakan bentuk dukungan, terhadap upaya warga membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah. Menurut Pantas, perubahan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan sarana, tetapi juga membutuhkan perubahan kebiasaan masyarakat, dalam memperlakukan sampah sejak dari lingkungan tempat tinggal.
“Mudah-mudahan melalui gelora semangat yang seperti ini, nanti pada suatu ketika kita akan bisa merubah budaya. Dari budaya sembarangan membuang sampah, menjadi budaya bersih, budaya sehat, dan budaya cinta lingkungan yang asli,” kata Pantas.
RW 014 Pondok Kelapa sebelumnya telah mengembangkan pengelolaan sampah organik melalui Biopori Jumbo. Lingkungan itu kemudian didorong, menjadi salah satu percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Dalam kunjungan itu, dukungan PDIP juga diwujudkan melalui bantuan sarana pengelolaan lingkungan. Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP, Ima Mahdiah,, mengatakan bantuan yang diberikan berupa 12 toren, dan dua mesin pencacah sampah.
“Kami Fraksi PDI Perjuangan juga melalui PAM Jaya, juga memberikan sumbangan berupa toren sebanyak 12, dan juga dua mesin pencacah sampah. Ini yang diusulkan oleh RW setempat yang melaksanakan biopori sejauh ini,” kata Ima.
Bantuan itu diberikan untuk mendukung aktivitas warga, yang sebelumnya telah menjalankan pengelolaan sampah secara mandiri. Peralatan itu diharapkan dapat memperkuat kegiatan pemilahan, dan pengolahan sampah di lingkungan RW 014.
Ima mengatakan, pengalaman warga RW 014 akan didorong, agar dapat diterapkan lebih luas di wilayah Jakarta. Menurut dia, praktik pengelolaan sampah yang telah dilakukan warga, dapat menjadi bagian dari gerakan yang diperluas ke wilayah lain.
“Hasil dari ini kebetulan Pak Gubernur juga sudah turun ke sini, nanti kami lebih perkuatkan kepada seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta, juga kepada seluruh pengurus PDI Perjuangan di seluruh wilayah DKI Jakarta. Untuk melaksanakan pemilahan sampah biopori yang sudah dilakukan oleh RW 14 Pondok Kelapa ini,” katanya.
Langkah itu sejalan dengan kebijakan Pemprov DKI Jakarta, yang mendorong masyarakat memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya. Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026, tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber, menjadi salah satu kebijakan yang menjadi rujukan dalam gerakan tersebut.
Bagi warga setempat, memilah sampah bukan sekadar menjalankan kebijakan. Cara itu dinilai mampu mengurangi bau, sekaligus membuat sampah seperti botol, kardus dan kertas, tetap memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual kembali.
“Kami di RW 14 Kelurahan Pondok Kelapa, sebelum ada Ingub, kita sudah mencoba memilah sampah. Karena dengan memilah itu risiko baunya berkurang jauh, yang biasanya kita tumpuk jadi satu, semua kita jadi satu hancur enggak bisa dipakai,” kata Ketua RW 014 Kelurahan Pondok Kelapa, Teuku Husaini.
Setelah dipisahkan berdasarkan jenisnya, sampah yang masih memiliki nilai guna tidak langsung dibuang. Warga mengumpulkan material seperti botol, kardus dan kertas untuk kemudian dijual. “Akhirnya kami memilah seperti botol, kardus, kertas, segala macam bisa dijual, punya nilai jual,” ucapnya.
Sementara sampah organik dari dapur, kini mulai mendapat penanganan berbeda. Jika sebelumnya sampah itu dibuang ke lahan sekitar atau depo, warga RW 014 memanfaatkannya sebagai bahan yang dimasukkan ke lubang biopori.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....