Volume Sampah Jakarta Tinggi, Josephine Minta Warga Memilah
- 18 Sep 2026 15:06 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Volume sampah Jakarta mencapai 7.000-8.000 ton per hari dan terus meningkat akibat pertumbuhan penduduk dan aktivitas rumah tangga.
- Anggota DPRD DKI Jakarta Josephine Simanjuntak mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin dalam memilah sampah sejak dari rumah guna mengurangi beban fasilitas pengolahan dan penampungan.
- DPRD DKI Jakarta melakukan pengawasan terhadap produk hukum daerah tentang pengelolaan sampah melalui kegiatan sosialisasi di Jakarta Timur pada 12-13 September 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta – Volume sampah Jakarta yang mencapai sekitar 7.000 hingga 8.000 ton per hari mendorong Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD DKI Jakarta Josephine Simanjuntak meminta masyarakat lebih disiplin memilah sampah dari rumah. Imbauan tersebut disampaikan Josephine saat menggelar kegiatan Peningkatan Fungsi Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah terhadap Produk Hukum Daerah tentang Pengelolaan Sampah bersama warga di Jakarta Timur, Sabtu dan Minggu, 12-13 September 2026.
Josephine mengatakan peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas rumah tangga berkontribusi terhadap tingginya timbulan sampah di Ibu Kota. Menurutnya, pemilahan sejak dari sumber diperlukan untuk mengurangi beban fasilitas pengolahan dan penampungan sampah.
"Saya hadir di sini untuk memantau seberapa jauh peraturan daerah yang kami terbitkan tentang pengolahan sampah ini berjalan. Kenapa saya bicara begini? Karena hari ini Jakarta sudah diberi peringatan oleh dua tempat pembuangan sampah kita, yaitu Rorotan dan Bantar Gebang," ujar Josephine melalui keterangan tertulisnya pada Jumat, 18 September 2026.
Ia mengingatkan, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kapasitas tempat pengolahan, tetapi juga kebiasaan masyarakat dalam menangani sampah rumah tangga. Sampah basah dari sisa makanan serta sampah kering seperti plastik dan kertas masih menjadi bagian dari timbulan sampah yang harus diangkut dan diolah setiap hari.
Josephine menyoroti ketergantungan Jakarta terhadap Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang di Bekasi dan fasilitas pengolahan sampah di Rorotan, Jakarta Utara. Ia menilai pengiriman sampah tanpa pemilahan dari tingkat rumah tangga dapat meningkatkan beban operasional fasilitas pengolahan.
"Hidup bersama sampah itu tidak enak dan bisa menimbulkan berbagai penyakit. Kalau Bantar Gebang sudah tidak sanggup menampung, lagipula Bantar Gebang bukan cuma menampung sampah Jakarta, dampaknya akan kembali ke kehidupan kita sehari-hari," kata Josephine.
| Baca juga: Dewan Dorong Aset DKI Jadi Mesin Pendapatan |
Data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan TPST Bantar Gebang menerima kiriman sampah dari Jakarta sekitar 7.400 hingga 8.000 ton per hari pada periode 2026. Pemerintah juga menyiapkan fasilitas pengolahan sampah di Rorotan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Bantar Gebang, dengan target pengolahan yang secara bertahap dapat mencapai sekitar 1.000 hingga 1.500 ton sampah per hari.
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyebut produksi sampah Jakarta rata-rata mencapai sekitar 7.500 ton per hari dan pada waktu tertentu dapat menembus 8.000 ton. Karena itu, pengurangan sampah dari sumber menjadi salah satu langkah yang didorong pemerintah, bersamaan dengan perubahan sistem pengelolaan di TPST Bantar Gebang.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mulai menerapkan sistem controlled landfill di TPST Bantar Gebang secara bertahap sejak 1 Agustus 2026 sebagai bagian dari transisi menuju penghentian praktik open dumping. Kebijakan tersebut diikuti dengan peningkatan fasilitas pengolahan sampah di dalam kota serta penguatan pemilahan sejak dari sumber.
Josephine meminta masyarakat tidak melihat persoalan sampah hanya sebagai tanggung jawab pemerintah. Menurutnya, kebiasaan memilah sampah dari dapur rumah tangga dapat membantu mengurangi sampah yang harus dibawa ke fasilitas pengolahan dan penampungan akhir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....