Hotspot Nasional Turun 121 Titik

  • 13 Sep 2026 13:38 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Kementerian Kehutanan berhasil menurunkan jumlah hotspot kebakaran hutan nasional menjadi 567 titik, berkurang 121 titik dibandingkan hari sebelumnya.
  • Operasi pengendalian kebakaran hutan dilakukan melalui operasi darat, water bombing, patroli udara, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara terpadu dan berkelanjutan.
  • Data hotspot berasal dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 yang dipantau melalui sistem SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Sabtu, 12 September 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan, terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melalui operasi darat, water bombing, patroli udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pemantauan terbaru menunjukkan jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, atau high confidence secara nasional, turun menjadi 567 titik, atau berkurang 121 titik dibandingkan sehari sebelumnya.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Sabtu, 12 September 2026 pukul 21.04 WIB, hotspot high confidence pada enam provinsi prioritas tercatat:

• Kalimantan Tengah: 197 titik, turun dari 271 titik;

• Kalimantan Barat: 91 titik, meningkat dari 51 titik;

• Sumatera Selatan: 62 titik, meningkat dari 11 titik;

• Kalimantan Selatan: 7 titik, turun dari 47 titik;

• Riau: 0 titik; dan

• Jambi: 0 titik.

"Kalimantan Tengah masih mencatat jumlah hotspot high confidence tertinggi, di antara enam provinsi prioritas, meskipun jumlahnya menurun dibandingkan sehari sebelumnya. Sementara itu, Riau dan Jambi tetap nihil hotspot high confidence pada pemantauan terakhir," ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, Minggu, 13 September 2026.

"Peningkatan yang terpantau di Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan, menjadi perhatian dalam penguatan patroli, groundcheck, serta operasi pemadaman. Perkembangan karhutla tetap dinamis, dan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca maupun bahan bakar di lapangan," tambahnya.

Ristianto Pribadi menegaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. "Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga seluruh indikasi tetap diverifikasi, melalui pengecekan langsung di lapangan," katanya.

Sebagai bagian dari strategi pencegahan dan pengendalian, lanjutnya, Kementerian Kehutanan terus melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca, di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Berdasarkan laporan pelaksanaan OMC Kementerian Kehutanan, operasi di Kalimantan Barat yang berlangsung pada 5-14 September, telah melaksanakan 9 sortie penerbangan, dengan penggunaan bahan semai sebanyak 7.200 kilogram NaCl.

"Penyemaian dilakukan pada wilayah sasaran di Mempawah, Singkawang, Bengkayang, Landak, Kubu Raya, Sanggau, Sekadau, Sintang, Ketapang, dan Kayong Utara. Pelaksanaan OMC itu tercatat menghasilkan estimasi volume air hujan, sekitar 87,9 juta meter kubik. Perhitungan peningkatan curah hujan secara keseluruhan, akan dilakukan setelah operasi berakhir," katanya.

Sementara itu, OMC di Kalimantan Tengah dilaksanakan pada 6-15 September 2026. "Hingga 11 September telah dilaksanakan 7 sortie, dengan penggunaan bahan semai sebanyak 5.600 kilogram NaCl, dengan penyemaian antara lain di sekitar Kapuas, Palangka Raya, Barito Selatan, Barito Utara, Barito Timur, dan Pulang Pisau," katanya.

Menurutnya, hujan yang dihasilkan melalui OMC membantu pembasahan lahan, dan mendukung kerja tim pemadaman di lapangan. "Meski demikian, terutama pada ekosistem gambut, pemadaman, pembasahan, dan pendinginan, harus tetap dilakukan secara berkelanjutan, karena bara dapat bertahan di bawah permukaan," katanya.

Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak lainnya terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman darat. Serta penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan.

"Pemerintah tetap menyiagakan 53 unit armada udara, untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas. Dari jumlah itu, 34 armada digunakan untuk operasi water bombing, sedangkan 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung OMC," kata Ristianto Pribadi.

Penguatan operasi itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, agar seluruh jajaran pemerintah, melakukan tindakan sedini mungkin pada setiap hotspot, dan tidak menunggu indikasi itu berkembang menjadi kebakaran. Presiden juga meminta langkah pencegahan diperkuat, antara lain melalui pembasahan, dan penyediaan sumber air pada daerah rawan.

"Selain respons teknis di lapangan, Presiden menekankan pentingnya edukasi hingga tingkat desa. Agar masyarakat memahami membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, dilarang dan dapat menimbulkan dampak luas," ucapnya.

Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat, untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila melihat asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melapor, agar petugas dapat melakukan respons sedini mungkin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....