Menhut Raja Antoni: Hotspot Naik, Kalbar-Kalteng Jadi Prioritas

  • 02 Sep 2026 17:47 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Menteri Kehutanan Raja Antoni melaporkan bahwa hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan peningkatan kembali setelah sebelumnya mengalami penurunan.
  • Kedua provinsi tersebut (Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah) telah ditetapkan sebagai prioritas utama penanganan karhutla secara nasional karena meningkatnya jumlah hotspot.
  • Menhut Raja Antoni menyampaikan pernyataan tersebut usai melakukan peninjauan langsung kondisi karhutla di Jambi pada hari Rabu, 2 September 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Antoni, mengatakan tren hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah kembali meningkat, setelah sebelumnya menurun. Kondisi itu membuat kedua provinsi tersebut, menjadi prioritas utama penanganan karhutla secara nasional.

“Setelah kemarin semua 6 provinsi yang prioritas trennya turun, namun hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,” ujar Menhut Raja Antoni, usai peninjauan karhutla di Jambi, Rabu, 2 September 2026.

Menhut Raja Antoni mengatakan, dirinya dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, akan ke Pontianak, untuk kembali memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di Kalimantan Barat. Pertemuan itu akan melibatkan Gubernur, Kapolda, dan Pangdam.

“Oleh karena itu besok, kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh stakeholder yang ada. Dengan Pak Gubernur, Kapolda, Pangdam ya, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi, sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk mitigasi,” kata Menhut.

Menurut Raja Antoni, koordinasi itu dilakukan untuk mendorong penurunan kembali angka hotspot, maupun fire spot yang telah diverifikasi. “Dan memastikan kembali, mendorong kembali agar angka hotspot maupun fire spot yang sudah diverifikasi, dapat turun. Jadi dua itu ya yang masih jadi masalah,” katanya.

Menhut Raja Antoni juga mengingatkan, penanganan karhutla masih membutuhkan kewaspadaan bersama. Ia menyebut, puncak El Nino berada di September ini, sehingga perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak, dalam pencegahan dan penanganan karhutla.

Berdasarkan data Sipongi milik Kementerian Kehutanan, data per cut off 1 September, hotspot di Kalimantan Barat dari sebelumnya 273 menjadi 859, Kalimantan Tengah dari 253 menjadi 623, Sumatera Selatan dari 20 menjadi 89, Kalimantan Selatan dari 22 menjadi 73, Riau tetap pada posisi 0. Sementara Jambi dari 0 menjadi 4 titik hotspot.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....