Menhut: Tren Hotspot Karhutla Menurun, tapi Belum Aman

  • 31 Agt 2026 18:18 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Antoni, menyebut tren hotspot kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) secara nasional, mulai menurun
  • Namun, kondisi Karhutla belum dapat disebut aman, dan penanganan harus terus dilakukan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Antoni, menyebut tren hotspot kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) secara nasional, mulai menurun. Namun, Menhut Raja Antoni menegaskan, kondisi Karhutla belum dapat disebut aman, dan penanganan harus terus dilakukan.

“Secara nasional saya ingin laporkan kepada masyarakat Indonesia, sekali lagi kondisi kita belum aman dari karhutla. Namun tren secara nasional juga menurun membaik,” ujar Menhut Raja Antoni, usai Rakor Penanganan Karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin, 31 Agustus 2026.

Rakor dilakukan bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Danrem 044/GAPO, dan Kejaksaan Tinggi Sumsel. Turut hadir Danlanud SMH Palembang Kolonel Asep Wahyu Wijaya, Danlanal Palembang Kolonel Arry Hendrawan, Perwakilan DPRD Provinsi Sumsel, bupati dan walikota se Sumsel.

Berdasarkan data tren harian hotspot enam provinsi prioritas, pada 29-30 Agustus 2026, hotspot di Kalimantan Tengah turun dari 1.116 titik, menjadi 308 titik atau 72,4%. Kalimantan Barat turun dari 899 menjadi 455 titik atau 49,4%, Kalimantan Selatan dari 108 menjadi 18 titik atau 83,3%, dan Riau dari 3 menjadi 0 titik atau 100%.

Sementara itu, hotspot di Sumatera Selatan pada periode yang sama, tercatat naik dari 37 menjadi 39 titik. Di Jambi, hotspot naik dari 1 menjadi 2 titik. Data juga menunjukkan tren hotspot harian Sumatera Selatan, dalam lima hari terakhir masih berfluktuasi, yakni 62 titik pada 26 Agustus, 157 titik pada 27 Agustus, 81 titik pada 28 Agustus, 37 titik pada 29 Agustus, dan 39 titik pada 30 Agustus.

Menhut Raja Antoni mengingatkan, penurunan hotspot tidak berarti persoalan asap telah selesai, terutama di kawasan gambut. Menurut Menhut, pendinginan dan pembasahan secara intensif diperlukan, karena titik api masih dapat kembali muncul.

“Hotspot ini tidak menandakan bahwa tidak ada asap. Karena nature-nya gambut meskipun tidak ada apinya, asapnya tetap selalu ada. Apabila tidak diadakan pendinginan, pembasahan atau pendinginan yang intensif yang berkali-kali, ini masih berpotensi menjadi fire spot kembali,” katanya.

Menhut menegaskan, pemerintah terus menangani Karhutla, namun meminta seluruh elemen masyarakat ikut berperan, di tengah kondisi El Nino yang sangat kuat. “Kami berharap kerja sama semua pihak, baik masyarakat, Kepala Desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, sampai seluruh elemen masyarakat, untuk sama-sama berpartisipasi menyelesaikan masalah ini,” ucap Raja Antoni.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....