Tren Fashion Ramah Lingkungan dengan Eco Print
- 28 Apr 2026 10:14 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID,Jakarta - Tren fashion ramah lingkungan semakin berkembang dan menarik perhatian masyarakat. Hal ini menjadi Topik Obrolan Budaya RRI Pro 4 Jakarta, “Tren Fashion Ramah Lingkungan dengan Eco Print” yang .Program yang dipandu oleh Nova Calysta ini menghadirkan dua pelaku eco print yakni Wirasanti, Owner Wirasanti Design, dan Inen Kurnia, Owner INEN Signature.
Dalam perbincangan tersebut, Wirasanti atau yang akrab disapa Santi mengaku sudah menyukai dunia kerajinan tangan sejak kecil. Ketertarikannya pada eco print mulai tumbuh sejak tahun 2018 ketika ia pertama kali mencoba teknik tersebut dan merasakan keunikan prosesnya.
Santi mengatakan, momen yang paling membuatnya jatuh cinta pada eco print adalah saat membuka kain setelah proses pengukusan. Setiap daun dan bunga yang ditempelkan pada kain meninggalkan motif alami yang tidak pernah sama satu dengan lainnya.
Menurutnya, eco print tidak hanya menghasilkan karya yang indah tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan. Bahkan, kecintaannya pada teknik ini membuat ia menanam berbagai tanaman yang bisa digunakan untuk eco print di sekitar rumahnya.
Sementara itu, Inen Kurnia mengungkapkan bahwa eco print adalah teknik pengolahan kain dengan menggunakan bahan serat alami seperti katun atau sutra. Motif yang dihasilkan berasal dari daun, bunga, akar hingga kayu yang memberikan warna alami pada kain.
Bagi Inen, eco print adalah karya yang “menyentuh hati” karena prosesnya sangat dekat dengan alam. Ia juga mengembangkan berbagai produk handmade seperti tas berbahan eco print yang dibuat secara manual dengan sentuhan artistik.
Menurut Santi, eco print tidak hanya bisa diterapkan pada kain, tetapi juga dapat diaplikasikan pada media lain seperti kertas dan kulit. Teknik pembuatannya pun beragam, tidak hanya dengan cara dikukus menggunakan dandang, tetapi juga bisa dilakukan dengan teknik dipukul untuk memindahkan motif daun ke media yang digunakan.
Keduanya juga menegaskan bahwa eco print berbeda dengan batik. Jika batik menggunakan malam sebagai perintang warna, eco print memanfaatkan langsung bentuk dan pigmen alami dari tumbuhan yang diproses melalui teknik pengukusan atau teknik lainnya.
Saat ini, para pelaku eco print di Indonesia juga tergabung dalam Ikatan Desainer Eco Print Indonesia. Organisasi ini akan menggelar Eco Print Fashion Week 2026 yang merupakan angkatan ke-5 dan berlangsung pada 22–26 April 2026. Kegiatan tersebut akan menghadirkan bazar karya para ecoprinter, pertemuan alumni, runway fashion show, hingga workshop bagi masyarakat yang ingin belajar eco print.
Meski terus berkembang, para pelaku eco print juga menghadapi berbagai tantangan. Namun menurut Santi, setiap kendala yang dihadapi justru dapat menjadi peluang untuk menemukan solusi baru. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang mencintai eco print, baik dengan memakai maupun membuatnya. Sementara itu, Inen berharap para ecoprinter tetap menjaga keaslian eco print dengan menggunakan kain serat alami serta pewarna yang berasal dari alam. 🌿
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....