Generasi Muda Banyumas Menjaga Tradisi Kuda Lumping
- 14 Sep 2025 01:02 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Kesenian kuda lumping Banyumasan terus hidup di tengah arus modernisasi. Generasi muda kini tampil sebagai garda terdepan dalam menjaga sekaligus mengembangkan seni warisan leluhur tersebut.
Seni Kuda Lumping Turangga Satria Laras resmi berdiri pada 6 Februari 2022 di Kelapa Gading Wetan, Banyumas. Kelompok ini lahir dari kegelisahan masyarakat yang melihat banyak anak-anak berminat pada seni tradisi, tetapi belum ada wadah yang bisa menampungnya. “Kami mendirikan kelompok ini agar generasi muda punya ruang positif sekaligus bisa menjaga warisan leluhur,” ujar Iqbal Nur Firmansah, Ketua Kuda Lumping Turangga Satria Laras dalam wawancara program siaran radio Apresiasi Budaya Banyumas di 92,8 FM Pro 4 RRI Jakarta pada Jumat, 12 September 2025.

Iqbal Nur Firmansah, Ketua Kuda Lumping Turangga Satria Laras. (Foto: Dok Pribadi)
Sejak awal, Turangga Satria Laras tidak hanya berfokus pada pertunjukan semata. Kelompok ini juga mengajarkan nilai kebersamaan, disiplin, tanggung jawab, hingga rasa cinta terhadap budaya lokal. “Seni kuda lumping mengajarkan kami untuk cinta budaya sekaligus saling menghormati,” ucap Iqbal. Nama Turangga Satria Laras sendiri dipilih karena sarat makna filosofis: “Turangga” berarti kuda, “Satria” menggambarkan keberanian ksatria, dan “Laras” mencerminkan keharmonisan.
Pertunjukan yang mereka bawakan mengusung ciri khas Banyumasan: musik rancak, gerak enerjik, dan atraksi trance atau ndadi yang memukau penonton. Kehadirannya bukan hanya sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. “Kuda lumping tidak sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan,” kata Iqbal menegaskan.
Perkembangan Seni Kuda Lumping
Laman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau Kemenparekraf yang kami akses pada Minggu, 14 September 2025 menyebut, kuda lumping atau jaran kepang sebagai tarian tradisional Jawa yang menggambarkan prajurit berkuda. Properti kuda dibuat dari anyaman bambu, dimainkan dengan iringan gamelan, dan kerap ditampilkan dalam acara adat maupun ruwatan desa. “Kuda lumping selalu identik dengan nilai spiritualitas dan kebersamaan yang diturunkan lintas generasi,” tertulis dalam laman resmi kemenparekraf.go.id.
Perkembangan seni kuda lumping juga tercatat di berbagai daerah. Penelitian berjudul Perkembangan Tari Tradisi Kuda Lumping di Kelompok Tari Turonggo Bekso di Kabupaten Pelalawan, Riau, yang dilakukan oleh Yahyar Erawati, Muslim, dan Viaeriseftiani (2021) menunjukkan bahwa unsur-unsur tari—mulai dari gerak, musik, kostum, hingga tata rias—terus mengalami pembaruan. Namun, seluruh perkembangan itu tidak meninggalkan nilai dasar tradisinya. “Perkembangan lahir dari kreativitas seniman, tetapi tetap menjaga jati diri kuda lumping,” tulis penelitian tersebut.
Iqbal menambahkan, pola yang sama juga ia terapkan di Banyumas. “Kami berusaha menjaga pakem gerak, tapi anak-anak juga kami beri ruang untuk bereksperimen agar tetap relevan dengan penonton muda,” ujarnya. Dengan cara itu, kuda lumping menjadi ruang ekspresi sekaligus media pendidikan karakter bagi generasi penerus.
Tantangan terbesar, menurut Iqbal, adalah derasnya pengaruh globalisasi yang membuat anak muda lebih akrab dengan budaya populer ketimbang seni tradisi. Meski begitu, kuda lumping memberi mereka ruang alternatif yang tidak kalah menarik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....