Killau Kenangan: Band Legendaris Ini Tak Pernah Hilang

  • 05 Okt 2026 11:50 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Killau Kenangan: Band Legendaris Ini Tak Pernah Hilang

RRI.CO.ID. JAKARTA. Ada alasan mengapa lagu-lagu dari era 1960-an hingga 1990-an masih terdengar akrab sampai sekarang. Meski zaman berubah dan teknologi musik berkembang begitu cepat, sejumlah band legendaris tetap memiliki tempat khusus di hati pendengarnya. Bahkan, beberapa lagunya masih sering dinyanyikan bersama, diputar di radio, hingga menjadi pengiring berbagai cerita kehidupan.

Suasana nostalgia itu kembali hadir dalam program Kilau Kenangan bersama Amelia Adriati, Minggu malam, 4 Oktober 2026. Mengangkat tema “Dinasti Band Legendaris”, program yang hadir pukul 21.00 hingga 24.00 WIB tersebut mengajak pendengar menyusuri perjalanan musik dari era 1960-an sampai 1990-an. Bukan sekadar mendengarkan lagu lama, pendengar diajak mengingat kembali bagaimana musik pernah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Perjalanan dimulai dari era 1960-an, ketika grup musik modern Indonesia mulai berkembang. Nama Koes Bersaudara menjadi salah satu pionir penting. Sebelum kemudian dikenal sebagai Koes Plus, grup ini menghadirkan lagu-lagu dengan melodi sederhana dan harmoni vokal yang kuat. Salah satunya Dara Manisku yang disebut dalam siaran sebagai karya yang berhasil mencuri perhatian anak muda pada zamannya. Di saat yang sama, dunia juga sedang dilanda fenomena The British Invasion melalui band-band Inggris seperti The Beatles.

Kenangan terhadap musik masa lalu ternyata tidak hanya muncul dari lagu yang diputar. Ada pengalaman sederhana yang kini justru terasa istimewa, seperti membeli kaset pita band idola. Setelah sampai di rumah, kaset langsung diputar melalui tape deck, sementara sampul dan liriknya dibaca berulang-ulang hingga hafal. Bagi generasi yang mengalaminya, membeli sebuah album bukan sekadar transaksi, tetapi bentuk kedekatan emosional dengan musik dan musisi yang dikagumi. Amelia pun mengajak pendengar berbagi cerita tentang band yang dulu paling sering mereka koleksi kasetnya.

Memasuki era 1970-an, warna musik semakin beragam dan panggung konser semakin berkembang. God Bless menjadi salah satu nama besar yang mewarnai perjalanan rock Indonesia. Panggung Sandiwara menjadi salah satu karya yang dibawa dalam perbincangan malam itu. Dari panggung Indonesia, perjalanan kemudian melebar ke musik dunia dengan nama-nama seperti Queen, Bon Jovi, dan Air Supply yang ikut membentuk selera musik generasi 1970-an dan 1980-an.

Era 1980-an kemudian menghadirkan warna baru. Musik pop kreatif, funk, jazz-rock, hingga penggunaan synthesizer membuat karakter musik semakin kaya. Krakatau menjadi salah satu grup Indonesia yang disebut mewakili perkembangan tersebut. Lagu Kau Datang, dengan vokal Tri Utami dan aransemen Dwiki Dharmawan, menjadi salah satu contoh bagaimana musik Indonesia saat itu mulai tampil dengan pendekatan musikal yang lebih modern. Pada segmen ini, Amelia juga menyapa sejumlah pendengar, di antaranya Ibu Andin di Kolaka, Ibu Sri Maryati di Depok, dan Ibu Eka di Tebet, sebelum mempersembahkan lagu untuk mereka.

Memasuki dekade 1990-an, wajah musik kembali berubah. Di Indonesia, nama Slank dan Dewa 19 menjadi bagian penting dari perjalanan musik anak muda. Terlalu Manis dan Kangen bukan hanya dikenal karena melodinya, tetapi juga karena mampu melekat pada pengalaman emosional pendengarnya. Di dunia internasional, gelombang alternative rock dan grunge melalui Nirvana ikut mengubah selera musik generasi muda. Setelah itu, Britpop dari Inggris kembali mencuri perhatian lewat band seperti Oasis dengan lagu Wonderwall.

Salah satu respon pendengar yang paling menarik datang dari Bapak Rian di Depok. Ia bercerita tentang pengalamannya sekitar tahun 1993, ketika masih duduk di bangku SMA dan bingung bagaimana mengungkapkan perasaan kepada seorang perempuan. Ia kemudian merekam lagu dari radio, mulai dari lagu Dewa 19 hingga lagu rock romantis dari luar negeri seperti Bon Jovi. Rekaman tersebut dibungkus bersama secarik surat dan dititipkan melalui siaran radio favorit anak muda saat itu. Setelah surat dan lagu tersebut diputar serta dibacakan penyiar, sang perempuan akhirnya menerima cintanya. Hubungan mereka memang hanya bertahan sekitar satu bulan karena sang perempuan kemudian pindah ke luar kota, tetapi cerita itu menjadi bukti bagaimana radio dan musik pernah menjadi bagian penting dari kisah cinta generasi muda.

Interaksi pendengar juga terus mengalir hingga penghujung acara. Amelia menyapa Ibu Diana di Cisalak, Bapak Wahyu di Mampang, Bang Jos di Rasela, dan Ibu Sawurin di Simprug, sekaligus mempersembahkan lagu untuk mereka. Sapaan-sapaan tersebut membuat perjalanan musik lintas dekade terasa lebih personal karena lagu yang dibicarakan bukan lagi sekadar catatan sejarah, tetapi memiliki kenangan masing-masing bagi pendengarnya.

Pada akhirnya, mungkin inilah alasan mengapa band-band legendaris tidak benar-benar pernah pergi. Personelnya bisa berganti, teknologi berubah, format musik terus berkembang, tetapi lagu yang pernah menjadi bagian dari kehidupan seseorang akan selalu memiliki tempat tersendiri. Dari kaset pita, radio, hingga platform digital, kenangan itu hanya berpindah medium. Kilau Kenangan bersama Amelia Adriati kembali mengingatkan bahwa sebuah lagu bisa menjadi pintu untuk membuka kembali cerita yang sudah lama tersimpan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....