September Ceria, saat Kenangan Kembali Menyapa
- 07 Sep 2026 13:51 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- September Ceria, saat Kenangan Kembali Menyapa
RRI.CO.ID. JAKARTA September selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan kenangan. Bagi pendengar Kilau Kenangan, bulan ini terasa semakin istimewa ketika Amelia Adriati menemani malam melalui kisah-kisah nostalgia dan lagu-lagu pilihan. Lewat siaran Minggu malam, pukul 21.00 hingga 24.00, Amelia mengajak pendengar menikmati September bukan sekadar sebagai pergantian bulan, tetapi sebagai ruang untuk kembali mengingat momen-momen manis yang pernah hadir dalam kehidupan.
Nama “September Ceria” tentu tak bisa dilepaskan dari lagu legendaris yang dipopulerkan Vina Panduwinata. Menurut penciptanya, James F. Sundah, September merupakan masa peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan. Hujan membawa kesejukan, menyuburkan kehidupan, sekaligus sering kali membuka kembali pintu-pintu kenangan. Tak heran jika istilah September Ceria kemudian begitu lekat dengan suasana hangat, optimistis, dan penuh nostalgia.
| Baca juga: Sidepony Kembali dengan “September” |
Bagi Jodie dari Cempaka Putih, September Ceria adalah perjalanan kembali ke masa ketika musik hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Ia mengenang bagaimana kaset pita yang kusut harus diputar dengan bantuan pulpen, sementara piringan hitam harus diperlakukan hati-hati agar jarumnya tidak merusak permukaan rekaman. Baginya, suara khas piringan hitam memiliki daya tarik yang belum tentu bisa digantikan oleh teknologi audio digital. Sebuah kenangan kecil yang justru memperlihatkan betapa kuatnya hubungan generasi terdahulu dengan musik.
Nostalgia semakin terasa ketika Amelia mengingat budaya titip salam melalui radio, sesuatu yang begitu populer pada era 1970-an hingga 1990-an. Sebelum hadirnya pesan instan dan media sosial, mengirim salam kepada sahabat atau orang terkasih membutuhkan usaha: menulis surat, menghiasnya dengan spidol warna-warni, lalu mengirimkannya ke studio radio. Ketika nama dan salam itu akhirnya dibacakan penyiar, kebahagiaannya bisa bertahan sepanjang hari. Radio pada masa itu bukan sekadar media hiburan, tetapi juga jembatan perasaan.
Salah satu cerita paling manis datang dari Kevin di Cimahi. Ia mengenang sebuah September ketika hujan gerimis turun dan dirinya sedang menunggu bus setelah kehilangan pekerjaan. Dalam kesedihan, seorang perempuan memberinya cokelat sambil menyemangatinya. Tak disangka, 25 tahun kemudian perempuan tersebut menjadi teman hidupnya. Saat kisah itu disampaikan di Kilau Kenangan, Kevin dan sang istri sedang menikmati secangkir teh hangat sambil mendengarkan radio. Sebuah kebetulan yang terasa seperti potongan adegan film romantis—dan sangat pantas disebut sebagai “September Ceria”.
Kenangan era 1990-an pun ikut dihidupkan kembali lewat cerita tentang wartel, antrean panjang, koin, kartu telepon, dan keberanian menelepon seseorang yang disukai. Selain itu, Amelia juga mengajak pendengar mengenang berbagai peristiwa yang terjadi pada tanggal 6 September, sembari membaca salam dari Bang Jos di Rasela, Ibu Sawurin di Simprug, Ibu April di Pasar Baru, Bapak Widodo di Tanah Abang, hingga pesan dari Ibu Emi, Bapak Rio, dan Bapak Adit. Semua pesan itu memperlihatkan satu hal: kenangan akan selalu memiliki tempat, dan radio masih mampu menjadi ruang untuk membagikannya.
Setelah tiga jam menemani pendengar, Amelia Adriati menutup Kilau Kenangan dengan hangat. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pendengar yang telah berbagi cerita, salam, dan kenangan. Dari musik, kisah cinta, kaset pita, piringan hitam hingga wartel, September malam itu terasa seperti perjalanan melintasi waktu. Sebab pada akhirnya, “September Ceria” bukan hanya tentang sebuah lagu atau sebuah bulan, tetapi tentang bagaimana sebuah kenangan sederhana dapat kembali menghadirkan senyum.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....