Kisah Pendidikan dan Nasionalisme di Tana Toraja, Film 'SOLATA' Raih Apresiasi Dunia

  • 06 Agt 2026 21:27 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Film "SOLATA" sukses mencuri perhatian publik internasional melalui kisah nyata yang mengangkat realitas pendidikan di pelosok Nusantara, sekaligus menonjolkan semangat nasionalisme. Karya tersebut menjadi salah satu film Indonesia yang mendapat apresiasi di panggung perfilman dunia.

Dilansir dari Antara, Rabu 6 Agustus 2026, kata "SOLATA" berasal dari bahasa Toraja yang berarti "teman sebagai keluarga yang kita pilih”. Makna tersebut mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan di daerah terpencil.

Sutradara sekaligus produser film, Ichwan Persada, mengatakan bahwa film tersebut baru kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan rangkaian perjalanan internasional di kawasan Eropa Timur. Tur tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kisah dan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.

Sebelumnya, film SOLATA meraih Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator dalam Golden FEMI Film Festival yang berlangsung di Sofia, Bulgaria, pada 6 Juni 2026. Penghargaan itu diberikan atas kontribusi film dalam mengangkat nilai kemanusiaan dan budaya Indonesia.

Setelah tampil di Bulgaria, tim produksi melanjutkan tur promosi ke lima kota di empat negara Eropa Timur, yakni Sofia (Bulgaria), Bratislava (Slovakia), Budapest (Hungaria), serta Ankara dan Istanbul (Turki).

Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi film, tetapi juga ruang dialog budaya. Melalui pemutaran film, penonton internasional diajak memahami pentingnya pendidikan, kemanusiaan, persahabatan, dan nasionalisme yang menjadi pesan utama cerita.

Secara garis besar, film SOLATA mengisahkan perjuangan seorang relawan guru asal Jakarta yang mengajar di kawasan Ollon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Di wilayah terpencil tersebut, ia berhadapan langsung dengan berbagai tantangan pendidikan yang dialami anak-anak setempat.

Cerita menjadi semakin emosional saat tokoh guru yang diperankan oleh Rendy Kjaernett membangun kedekatan dengan para muridnya. Hubungan tersebut menggambarkan bahwa pendidikan menjadi harapan untuk membangun masa depan generasi muda di daerah pelosok.

Keunikan film ini juga terlihat dari enam tokoh murid yang memiliki nama depan menyerupai nama-nama presiden Indonesia. Simbol tersebut sengaja dihadirkan untuk memperkuat pesan nasionalisme yang menjadi benang merah dalam keseluruhan cerita.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....