Riset Ungkap Tantangan Tersembunyi Perempuan Asia di Dunia Jazz

  • 14 Jun 2026 08:39 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Penelitian Theresa Chen mengungkap bahwa perempuan Asia di dunia jazz sering menghadapi tantangan berlapis karena gender, latar belakang etnis, dan pilihan profesi sebagai musisi jazz.
  • Musisi Asia kerap dianggap unggul secara teknis tetapi kurang kreatif dalam berimprovisasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak berdasar dan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi banyak musisi.
  • Kehadiran musisi dari berbagai latar budaya memperkaya dunia jazz. Pengalaman hidup dan identitas yang berbeda justru menjadi sumber kreativitas yang menjaga jazz tetap relevan hingga saat ini.

RRI.CO.ID, Jakarta - Banyak orang menganggap jazz sebagai musik yang bebas, terbuka, dan memberi ruang bagi siapa saja untuk berekspresi. Namun di balik panggung dan alunan improvisasi yang memukau, masih ada stereotip yang diam-diam bertahan hingga saat ini.

Salah satunya adalah anggapan bahwa musisi Asia memiliki kemampuan teknik yang baik, tetapi kurang kreatif atau kurang ekspresif saat memainkan jazz.

Pandangan tersebut menjadi salah satu temuan menarik dalam penelitian Three Strikes As Well: Asian, Woman, and Jazz Musician karya Theresa Chen yang diterbitkan dalam Journal of Jazz Studies pada 2025. Kajian ini turut dibahas dalam program JazzyVibes bersama Lia Kusumawardani yang disiarkan melalui RRI Jazz Channel dan aplikasi RRI Digital.

Melalui wawancara terhadap sebelas musisi jazz perempuan keturunan Asia yang berkiprah di New York, Chen mengungkap bahwa perjalanan mereka di dunia jazz tidak selalu mudah. Mereka sering menghadapi tantangan yang datang dari berbagai arah sekaligus.

Chen menyebut kondisi tersebut sebagai three strikes atau "tiga tantangan". Pertama, karena mereka perempuan. Kedua, karena berasal dari latar belakang Asia. Ketiga, karena memilih jazz sebagai profesi di tengah berbagai ekspektasi sosial dan budaya.

Bagi sebagian keluarga Asia, karier di bidang seni masih dianggap kurang menjanjikan dibandingkan profesi yang lebih mapan seperti dokter, guru, insinyur, atau pengacara. Akibatnya, tidak sedikit musisi yang harus berjuang meyakinkan keluarga bahwa musik bukan sekadar hobi, melainkan pilihan hidup yang serius.

Salah seorang narasumber dalam penelitian tersebut mengaku sempat menempuh pendidikan keperawatan sebelum akhirnya fokus menekuni dunia jazz. Di siang hari ia belajar untuk profesi yang diharapkan keluarga, sementara pada malam hari dan akhir pekan ia tampil sebagai penyanyi jazz.

da pula musisi lain yang menceritakan bahwa sejak kecil ia didorong belajar musik bukan untuk menjadi seniman profesional, melainkan sebagai bagian dari pendidikan yang dianggap dapat membentuk karakter dan meningkatkan nilai sosial.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi perempuan Asia dalam dunia jazz bukan hanya soal kemampuan bermusik. Mereka juga harus menghadapi berbagai ekspektasi budaya yang melekat pada pilihan karier mereka.

Di sisi lain, stereotip tentang kreativitas juga masih menjadi persoalan. Sebagian musisi Asia mengaku kerap dipandang sebagai pemain yang disiplin dan terampil secara teknis, tetapi dianggap kurang memiliki spontanitas yang menjadi ciri khas jazz.

Padahal sejarah jazz justru menunjukkan hal yang berbeda.

Dunia jazz modern mengenal banyak nama besar dari Asia yang berhasil memberikan warna baru dalam perkembangan musik ini. Pianis Jepang Toshiko Akiyoshi, misalnya, dikenal luas karena kemampuannya menggabungkan unsur budaya Jepang ke dalam komposisi jazz modern. Generasi berikutnya menghadirkan nama seperti Hiromi Uehara yang mendapat pengakuan internasional berkat gaya bermain piano yang energik, eksploratif, dan penuh kejutan.

Keberhasilan para musisi tersebut membuktikan bahwa kreativitas tidak ditentukan oleh ras, etnis, maupun asal budaya seseorang.

Penelitian Chen juga mengingatkan bahwa sejarah jazz selama ini sering berfokus pada tokoh-tokoh tertentu, sementara banyak kelompok lain yang kontribusinya kurang terdengar. Padahal setiap musisi membawa pengalaman hidup yang unik ke dalam karya mereka.

Ada yang tumbuh di Taiwan, Filipina, Korea Selatan, Jepang, Vietnam, atau Amerika Serikat. Masing-masing memiliki perjalanan yang berbeda, tetapi menemukan ruang yang sama untuk berekspresi melalui jazz.

Di sinilah kekuatan jazz sesungguhnya.

Jazz lahir dari pertemuan berbagai budaya, pengalaman hidup, dan identitas yang beragam. Musik ini terus berkembang karena mampu menyerap perspektif baru dari siapa pun yang memainkannya.

Karena itu, semakin beragam latar belakang musisi yang hadir di panggung jazz, semakin kaya pula cerita yang dapat didengar oleh para penikmat musik.

Temuan Theresa Chen menjadi pengingat bahwa di balik setiap pertunjukan jazz terdapat kisah tentang keberanian menembus batas, melawan stereotip, dan menemukan suara sendiri. Dan mungkin, justru keberagaman itulah yang membuat jazz tetap hidup, relevan, dan terus berkembang hingga hari ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....