Meniti Jejak Seni dan Pendidikan, Dedikasi Seorang Guru Tari Muda Minangkabau
- 01 Mei 2026 20:22 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta- Seorang perempuan muda asal Bukittinggi, Dia Yunifa, S.Pd., Gr., perlahan menapaki jalan hidupnya sebagai pendidik seni yang penuh dedikasi. Lahir pada 3 Desember dari pasangan Ahmad Fauzi dan Yuni Hartati, ia tumbuh sebagai anak tunggal dengan latar budaya Melayu yang kuat. Kini, ia menetap di Ambacanggang, Nagari Air Manggis Selatan, Lubuk Sikaping, Pasaman, sembari mengabdikan diri di dunia pendidikan dan seni tari.
Perjalanan pendidikannya menunjukkan keseriusan dalam menekuni bidang seni. Setelah menyelesaikan S-1 Pendidikan Tari, ia melanjutkan Pendidikan Profesi Guru di Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Pilihan menjadi guru bukanlah kebetulan, melainkan wujud dari cita-cita orang tua yang ingin melihatnya mengabdi sebagai pendidik. Sebelum resmi menjadi guru pada tahun 2023, ia telah lebih dahulu aktif sebagai pelatih tari di sanggar serta menekuni pekerjaan rias pengantin.
Dia Yunifa menyampaikan beberapa prestasi yang di torehkannya di acara Apresiasi Budaya Minangkabau, 'Minang Bakaba Lamak Didanga', di Pro 4 RRI Jakarta Rabu, 29 April 2026, melalui sambungan telp:
"Alhamdulillah saya mendapatkan beberapa prestasi yang diraihnya, saya pernah meraih medali perak dalam ajang FLS2N Tari Berpasangan tingkat nasional di Manado pada tahun 2016. Selain itu, ia juga dipercaya sebagai penari dalam MTQ Nasional ke-28 tahun 2020. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga buat saya dalam membangun kepercayaan diri serta kualitasnya sebagai guru seni yang inspiratif", ujar Dia.

Di tengah kesibukannya mengajar, ia tetap aktif di sanggar tari—kegiatan yang telah ia tekuni sejak bangku SMP. Sementara itu, keterampilannya di bidang tata rias mulai berkembang sejak masa kuliah dan kini menjadi pekerjaan sampingan. ( Foto: Dia)
Baca Juga :
Menjaga Warisan Rasa, Menembus Pasar Dunia lewat Kawa Daun
Semangat Muda Minang Melestarikan Budaya dan Meraih Prestasi
Di tengah kesibukannya mengajar, ia tetap aktif di sanggar tari—kegiatan yang telah ia tekuni sejak bangku SMP. Sementara itu, keterampilannya di bidang tata rias mulai berkembang sejak masa kuliah dan kini menjadi pekerjaan sampingan. Baginya, menjadi guru seni adalah profesi yang menyenangkan sekaligus memiliki prospek cerah, terutama di Sumatera Barat yang masih membutuhkan banyak tenaga pendidik di bidang seni.
Dengan dukungan penuh dari orang tua, ia terus melangkah membawa pesan yang selalu dipegang teguh: melakukan segala sesuatu dengan hati dan secara maksimal agar tidak menyisakan penyesalan. Ia pun memiliki harapan besar untuk mendirikan sanggar tari sendiri dan membina lebih banyak generasi muda. “Jangan lupakan budaya dan tradisi Minangkabau. Pelajari, lestarikan, dan kembangkan kreativitas agar seni kita semakin maju,” pesannya. Ia juga mengajak para guru seni untuk menjalani profesinya dengan sepenuh hati, karena melalui seni, peserta didik dapat tumbuh lebih peka, kreatif, dan berkembang secara optimal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....