Menyusuri Jejak Mudik dalam Hangatnya Siaran Kilau Kenangan
- 23 Mar 2026 08:24 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Suasana Minggu malam, 22 Maret 2026, terasa berbeda ketika program Kilau Kenangan hadir menemani pendengar dari pukul 21.00 hingga 24.00 WIB bersama penyiar Ika Damayanti. Program ini tidak sekadar menghadirkan musik dan cerita, tetapi juga membawa pendengar menyelami makna mudik sebagai bagian dari identitas budaya yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
Mudik dalam perspektif historis bukanlah tradisi baru. Jauh sebelum Islam hadir di Nusantara, masyarakat di Pulau Jawa telah mengenal kebiasaan kembali ke kampung halaman. Para perantau yang bekerja di pusat kerajaan pulang saat musim panen atau hari besar untuk bertemu keluarga, membersihkan makam leluhur, serta melakukan penghormatan kepada orang tua. Ketika Islam berkembang, tradisi ini kemudian bertransformasi menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri, memperkuat nilai silaturahmi dan saling memaafkan.
Baca Juga: Kilau Kenangn: Tradisi Lebaran Sarat Makna Kebersamaan
| Baca juga: Layar Tancap, Rindu yang Menyala |
Dalam perjalanan waktu, mudik juga menyimpan beragam cerita yang melekat dalam ingatan kolektif masyarakat. Pada era 1960 hingga 1990-an, jalur Pantura menjadi saksi perjalanan panjang jutaan orang. Kendaraan berjejer tanpa henti, mulai dari bus penuh penumpang hingga mobil bak berterpal yang membawa keluarga dalam satu perjalanan. Kemacetan panjang bahkan membuat banyak orang harus beristirahat di pinggir jalan atau di pom bensin, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari pengalaman mudik itu sendiri.
Moda transportasi juga berkembang mengikuti zaman. Kereta api, yang telah hadir sejak 1867 di Semarang, menjadi salah satu sarana penting bagi para perantau untuk kembali ke kampung halaman. Hingga kini, kereta tetap menjadi pilihan utama karena mampu menghadirkan perjalanan yang relatif stabil di tengah lonjakan mobilitas saat Lebaran.
Di sisi lain, perjalanan laut menyimpan kisah tersendiri. Kapal-kapal dari pelabuhan di Jawa mengangkut penumpang menuju Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Perjalanan yang bisa berlangsung berhari-hari itu diwarnai dengan kebersamaan sederhana: tikar digelar, bekal makanan dibagikan, dan kardus oleh-oleh memenuhi dek kapal.
Memasuki era modern, pesawat terbang mulai menjadi alternatif sejak tahun 1980-an hingga 1990-an. Seiring berkembangnya maskapai dan semakin terjangkaunya harga tiket, mudik dengan pesawat menjadi pilihan yang semakin umum, terutama bagi mereka yang ingin mempersingkat waktu perjalanan tanpa mengurangi esensi pulang ke kampung halaman.
Melalui rangkaian cerita dan nuansa yang hangat, Kilau Kenangan berhasil menghadirkan mudik bukan hanya sebagai perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan emosional yang sarat makna. Sebuah pengingat bahwa di balik padatnya arus perjalanan, selalu ada kerinduan yang ingin dituntaskan.
Ika Damayanti juga membacakan cerita-cerita menarik dari pendengar Kilau Kenangan yang masuk melalui Whatsapp di 081250001933. Banyak pendengar berbagi cerita tentang pengalaman mudik lebaran yang paling berkesan. Ika Damayanti dari komunitas Suara aselasa Id, juga adalah seorang dubber profesional.
Program ini dapat didengarkan setiap minggu pukul 21.00–24.00 WIB melalui RRI Digital dan 91,2 FM RRI Pro 1 Jakarta, menghadirkan kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan, sekaligus mempererat kembali ingatan tentang kisah-kisa tempo dulu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....