Layar Tancap, Rindu yang Menyala

  • 25 Mei 2026 09:33 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Suasana hangat penuh nostalgia hadir dalam program “Kilau Kenangan” bersama penyiar Amelia Adriati di Kanal Kenangan Radio Republik Indonesia, Minggu malam 24 Mei 2026. Mengangkat tema “Layar Rakyat: Jejak Layar Tancap di Indonesia”, acara ini membawa pendengar kembali ke masa ketika layar putih di tengah lapangan menjadi hiburan paling dinanti masyarakat.

Sejak pukul 21.00 WIB, Amelia Adriati mengajak pendengar mengenang era layar tancap yang pernah berjaya sebelum televisi dan bioskop modern berkembang pesat. Mulai dari suasana lapangan desa, proyektor besar, aroma jajanan malam, hingga kebiasaan membawa tikar dan sarung demi menikmati film bersama warga sekitar, semuanya menjadi cerita yang terasa dekat bagi banyak pendengar.

Dalam siaran tersebut dijelaskan bahwa layar tancap sudah hadir sejak awal 1900-an dan berkembang menjadi hiburan rakyat yang populer pada era 1960 hingga 1980-an. Selain menjadi hiburan, layar tancap juga pernah dimanfaatkan pemerintah sebagai media edukasi dan penyebaran informasi kepada masyarakat melalui film bertema pembangunan, nasionalisme, hingga penyuluhan pertanian.

Respons pendengar pun mengalir hangat sepanjang acara. Ibu Melly dari Jagakarsa mengaku selalu membawa sarung saat menonton layar tancap karena lapangan penuh nyamuk dan udara malam terasa dingin. Sementara Pak Gibran dari Lampung mengenang masa muda ketika sengaja membawa sarung lebih untuk diberikan kepada gebetan sebagai bentuk perhatian sederhana. Cerita-cerita seperti itu membuat suasana siaran terasa akrab dan penuh tawa.

Tidak hanya nostalgia soal film, pendengar juga diajak mengenang istilah khas layar tancap seperti “MISBAR” atau gerimis bubar. Amelia Adriati membawakan pembahasan dengan santai dan komunikatif, membuat banyak pendengar ikut berbagi pengalaman tentang masa ketika layar tancap menjadi tempat berkumpul, bersosialisasi, bahkan awal tumbuhnya kisah cinta remaja.

Acara semakin menarik ketika Amelia membahas film-film favorit era 1970-an yang dahulu wajib hadir di layar tancap, mulai dari film Rhoma Irama, Benyamin Sueb, Barry Prima hingga film horor legendaris Suzanna. Pendengar pun dibuat kembali mengingat masa ketika warga rela berjalan jauh demi menonton film favorit di lapangan desa sebelah.

Menjelang penutupan acara, Amelia Adriati menyampaikan bahwa layar tancap bukan sekadar hiburan, melainkan simbol kebersamaan dan kesederhanaan masyarakat Indonesia di masa lalu. Semoga kenangan tentang layar putih di bawah langit malam itu tetap hidup, menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sederhana sering kali lahir dari kebersamaan yang tulus.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....