Roda-Roda Tangguh di antara Bulir Padi: Kisah Bang Udin Penakluk Jalan Setapak

  • 31 Agt 2026 09:24 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, Jakarta — Di bawah terik matahari yang menyengat, suara deru mesin sepeda motor yang dimodifikasi khusus, memecah keheningan kawasan pesawahan. Di atas roda-roda berulir tajam itu, Bang Udin, pria asal Karawang berusia 31 tahun, siap menerjang licinnya jalan setapak demi mengangkut puluhan kilogram gabah.

Sudah sembilan tahun Udin menjalani profesi sebagai pengangkut atau ojek padi. Pekerjaan ini berawal dari rasa sukanya akan kebebasan dan kecintaannya pada otomotif. Bersama rombongannya, Ia tak hanya beroperasi di tanah kelahirannya, Karawang, tetapi juga kerap berkeliling mengejar wilayah mana saja yang sedang memasuki masa panen.

"Awalnya kita nyari kebebasan sama hobi. Di mana masih ada lahan pertanian, kita kejar," ujar Udin, ketika diwawancara RRI Jakarta, pada Minggu 30 Agustus 2026.

Setiap hari panen, motor Udin dipacu naik-turun membawa beban dua karung gabah dari dalam sawah menuju tempat penampungan atau pengepul. Adapun ongkos angkut yang diterima berkisar antara Rp8.000-Rp10.000 per karung, tergantung jarak tempuh dan kondisi medan. Rata-rata, dalam sehari, Udin dan kawannya bisa membawa pulang sekitar Rp200.000.

Namun kini zaman telah berubah. Pembangunan yang semakin masif membuat lahan pertanian perlahan menyusut. Dampaknya tak hanya dirasakan oleh para petani, tetapi juga para pengangkut gabah seperti Udin.

Dahulu, saat lahan sawah masih terbentang luas, Udin mampu mengantongi penghasilan Rp1.000.000-Rp1.500.000 dalam sehari. Kini, mendapatkan Rp350.000 sehari saja sudah harus diraih dengan bekerja hingga larut malam.

Meski tantangan makin berat dan lahan kerja kian mengkerut, Udin tak patah arang. Selama mesin motornya masih bisa menyala dan bulir-bulir padi masih menguning di hamparan sawah, Ia akan terus memutar roda kehidupannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....